Home LingkunganNgeri! Gunungan Sampah Bantargebang Sudah Tembus 60 Meter

Ngeri! Gunungan Sampah Bantargebang Sudah Tembus 60 Meter

by CeritaBerita

Kondisi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang saat ini benar-benar bikin kita harus mengelus dada. Dalam sebuah acara bertajuk Jakarta Eco Future Festival yang digelar di Balai Kota DKI Jakarta pada Jumat, (3/7), Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, membeberkan fakta yang sangat mengejutkan. Saat ini, ketinggian gunungan sampah di Bantargebang ternyata sudah menyentuh angka 60 meter. Kondisi ini dinilai sangat darurat karena berisiko tinggi memicu bencana lingkungan besar kalau tidak segera diubah cara pengelolaannya.

Ketinggian yang luar biasa ini membuat TPST Bantargebang menjadi salah satu titik produksi emisi gas beracun metana terbesar di Indonesia. Bayangkan saja, akibat proses pembusukan yang terus terjadi, kawasan ini menghasilkan setidaknya 6,3 ton gas metana per jam. Dudi menyebutkan, berdasarkan informasi dari Menteri Lingkungan Hidup, gas metana dari pengelolaan sampah kita bahkan menjadi penghasil nomor dua terbesar di dunia. Hal inilah yang menjadi alasan utama mengapa kualitas udara di Jakarta terus memburuk dan kerap dicap sebagai salah satu kota paling berpolusi di dunia.

Sistem Pembuangan Terbuka Resmi Dihentikan Mulai Agustus 2026

Melihat situasi yang layaknya bom waktu ini, Pemprov DKI Jakarta akhirnya mengambil langkah tegas. Mereka akan menghentikan total sistem pembuangan terbuka atau open dumping mulai tanggal (1/8/2026) mendatang. Dudi menegaskan bahwa per 1 Agustus nanti menjadi batas akhir operasional konvensional di Bantargebang. Setelah tanggal tersebut, pengelolaan sampah wajib menggunakan sistem sanitary landfill, di mana sampah akan dipadatkan di area cekungan lalu diuruk dan ditutup rapat menggunakan tanah. Langkah ini sangat penting demi mencegah longsor sampah serta tragedi kebakaran lahan seperti yang sempat menimpa TPA Jatiwaringin, Tangerang, pada Selasa, (30/6) kemarin.

Setiap harinya, Jakarta mengirim sekitar 7.200 hingga 7.800 ton sampah ke Bantargebang menggunakan lebih dari 2.100 armada truk. Jika ditambah dengan warga komuter yang beraktivitas di Jakarta, total sampah sebenarnya bisa mencapai 9.000 ton per hari. Saat ini, sekitar 50 persen dari total sampah tersebut didominasi oleh sampah organik.

Untuk mengatasinya, DLH DKI Jakarta berencana mengembangkan fasilitas eco-Farm atau peternakan berbasis lingkungan untuk budidaya maggot sebagai pakan ternak. Selain itu, mereka juga mengoptimalkan sarana Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan berkapasitas 2.500 ton. Fasilitas di Rorotan ini sekarang sudah bekerja sama dengan Kementerian Pertanian menggunakan teknologi pengering khusus, sehingga efektivitasnya naik dan tidak lagi mengeluarkan bau menyengat yang mengganggu warga sekitar.

Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: kompas.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.

Anda mungkin suka

Tinggalkan Komentar