Proses damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan mandek setelah militer AS meluncurkan serangan udara balasan ke target militer Iran. Mengutip laporan CNBC pada Senin (29/6), jet tempur Komando Sentral AS (CentCom) menggempur 10 target militer di sekitar Selat Hormuz pada hari Minggu kemarin. Gempuran ini menyasar infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, pertahanan udara, hingga fasilitas drone dan kapal ranjau Iran.
Langkah tegas Washington ini diambil setelah kapal tanker berbendera Panama, M/T Kiku, dihantam drone Iran saat melintasi selat pada hari Sabtu dengan muatan dua juta barel minyak mentah. Tak hanya itu, CentCom mendeteksi Iran sempat menembak kapal kargo berbendera Singapura, Ever Lovely, di lepas pantai Oman pada hari Kamis, meski kapal tersebut tetap bisa lanjut berlayar.
Respons Rudal Iran dan Amukan Donald Trump
Merespons serangan di pesisirnya, Iran langsung membalas dengan meluncurkan rudal balistik dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Minggu malam. Aksi saling serang ini memicu reaksi keras dari negara tetangga seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi yang kompak mengecam agresi Iran karena dinilai melanggar hukum internasional dan mengancam navigasi laut.
Eskalasi ini juga menyulut kemarahan Presiden AS Donald Trump. Lewat akun Truth Social miliknya, Trump mengancam akan membumihanguskan wilayah Iran jika draf damai terus dilanggar. “Mungkin akan tiba titik di mana kita terpaksa menyelesaikan pekerjaan secara militer. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!” ancam Trump.
Nasib Meja Perundingan di Swiss dan Dampak Harga Minyak
Ketegangan militer ini pecah tepat seminggu setelah Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman (MOU) di Swiss untuk menyusun kesepakatan damai permanen. Di bawah kerangka gencatan senjata 60 hari tersebut, kedua belah pihak seharusnya menahan diri, namun kini mereka justru saling tuduh menciderai perjanjian, termasuk saat AS menggempur Iran pada hari Jumat lalu.
Seorang sumber diplomatik dari Pakistan menyebutkan bahwa meski negosiasi saat ini dibekukan, para delegasi masih bertahan di Switzerland untuk menunggu lampu hijau dari pemerintah masing-masing. Di sisi lain, pejabat senior Gedung Putih membantah kabar bahwa perundingan telah batal dan menegaskan pembicaraan teknis masih berjalan sesuai jalur.
Menariknya, laporan Axios menyebutkan kedua negara sebenarnya sempat sepakat menghentikan gempuran di laut. Karena lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dipastikan CentCom tetap aman berjalan, kekhawatiran pasokan global pun mereda. Alhasil, harga minyak mentah dunia jenis Brent untuk kontrak Agustus ditutup merosot 4,34% ke level US$ 71,99 per barel pada hari Jumat. Sementara itu, minyak jenis WTI AS juga turun 3,74% ke posisi US$ 69,23 per barel, menandakan momen pertama kalinya WTI jatuh di bawah US$ 70 sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: cnbcindonesia.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.