Home ArtikelJejak Karier Ancelotti: Tamparan Bagi HRD Pemburu Loyalitas

Jejak Karier Ancelotti: Tamparan Bagi HRD Pemburu Loyalitas

by CeritaBerita

Dalam dunia sepak bola, nama Carlo Ancelotti adalah jaminan mutu. Menatap rekam jejak kariernya—mulai dari Reggiana, Parma, Juventus, AC Milan, Chelsea, PSG, Real Madrid, Bayern Munich, hingga kini menakhodai tim nasional Brazil—satu hal yang langsung terlihat menonjol adalah mobilitasnya yang tinggi. Ancelotti adalah seorang job hopper ulung di level tertinggi.

Bagi sebagian praktisi HRD (Human Resources Department) konvensional, CV yang dipenuhi dengan perpindahan tempat kerja setiap dua hingga tiga tahun sering kali dianggap sebagai sebuah red flag. Ada stigma bahwa pelamar tersebut kurang loyal atau tidak stabil. Namun, fenomena Don Carlo memberikan perspektif baru yang sangat berharga bagi dunia profesional modern: berpindah-pindah perusahaan, selama didorong oleh pencapaian prestasi dan portofolio yang solid, justru merupakan indikator dari seorang profesional papan atas.

Loyalitas memang poin yang penting, namun HRD hari ini harus mulai menyadari bahwa tren target karier talenta-talenta berprestasi (top-tier talents) telah bergeser. Menetap di satu perusahaan selama belasan tahun bukan lagi satu-satunya tolok ukur kesuksesan. Sering kali, keputusan seorang karyawan berprestasi untuk angkat kaki bukan karena mereka tidak setia, melainkan karena batas ruang bertumbuh di perusahaan lama telah mencapai puncaknya.

Banyak kasus di mana seorang karyawan telah memberikan kontribusi luar biasa, namun kontribusi tersebut tidak dihargai secara proporsional. Hambatan ini bisa berupa tidak adanya kesempatan promosi yang jelas akibat struktur organisasi yang gemuk atau tersumbat, standar gaji yang tidak lagi kompetitif di pasar, hingga lingkaran kultur perusahaan yang tidak sehat (toxic culture). Ketika situasi ini terjadi, bertahan di tempat yang sama justru menjadi tindakan sabotase diri terhadap potensi karier jangka panjang.

Bagi seorang profesional, berpindah perusahaan dengan rekam jejak prestasi seperti Ancelotti justru membawa banyak keuntungan bagi perusahaan baru yang merekrutnya:

  • Kaya Perspektif dan Adaptabilitas: Berpindah ekosistem memaksa seseorang untuk beradaptasi dengan cepat. Ancelotti sukses menaklukkan budaya sepak bola Italia, Inggris, Prancis, Spanyol, dan Jerman karena ia adaptif. Karyawan yang pernah mencicipi berbagai kultur kerja membawa best practices yang kaya ke perusahaan baru.
  • Mentalitas Berorientasi Target: Seorang job hopper berprestasi tahu bahwa waktu mereka terbatas. Mereka fokus memberikan dampak instan dan hasil nyata (KPI) demi menjaga nilai tawar mereka di pasar tenaga kerja.
  • Kematangan Kepemimpinan: Menghadapi berbagai jenis karakter manajemen dan tim di tempat yang berbeda melatih kemampuan komunikasi dan kepemimpinan di tingkat yang jauh lebih matang.

Melalui analogi karier Carlo Ancelotti, pesan utama untuk para HRD sudah sangat jelas. Alih-alih langsung menghakimi kandidat yang sering berpindah kerja, bedah lebih dalam alasan dan apa yang mereka tinggalkan di perusahaan sebelumnya. Jika mereka pergi setelah berhasil menyelesaikan target besar atau membangun sistem yang sukses, mereka bukanlah kutu loncat yang tidak loyal, melainkan seorang profesional ambisius yang siap membawa perusahaan Anda ke level berikutnya. Tugas perusahaan saat ini bukan lagi menuntut loyalitas buta, melainkan menciptakan ruang bertumbuh yang sehat agar talenta-talenta hebat ini memilih untuk tinggal lebih lama.

Anda mungkin suka

Tinggalkan Komentar