Home Sosial BudayaPP Tunas Hapus Massal Jutaan Akun Youtube dan Tiktok Anak

PP Tunas Hapus Massal Jutaan Akun Youtube dan Tiktok Anak

by CeritaBerita

Dunia maya lagi gempar banget, nih. Buat kalian yang sering FYP-an atau maraton video di YouTube, sadar enggak sih kalau belakangan ini suasananya agak beda. Yup, bukan halusinasi kalian kok. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) baru aja ngasih kejutan besar. Di Jakarta, Jumat (26/6), Menkomdigi Meutya Hafid blak-blakan mengungkap kalau platform digital raksasa udah mulai bersih-bersih massal dengan menonaktifkan jutaan akun milik pengguna anak-anak. Gak main-main, totalnya udah tembus 4,7 juta akun yang kena banned.

Usut punya usut, aksi bersih-bersih ini bukan karena sistemnya lagi eror atau kena hack massal, ya. Ini semua demi mematuhi aturan baru dari pemerintah, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, atau yang lebih keren disebut PP Tunas. Aturan ini dibuat biar internet kita ramah bocil dan gak makin toxic.

TikTok dan YouTube Curi Start, Siapa Menyusul?

Siapa aja nih platform yang udah gerak cepat? TikTok ternyata jadi yang paling agresif. Sampai Juni 2026 ini, platform video pendek favorit sejuta umat itu udah menonaktifkan sekitar 4,1 juta akun anak bawah umur. Sementara itu, YouTube juga gak mau kalah dengan menutup sekitar 600.000 akun anak pada Mei 2026 lalu.

“Kami ingin platform lain untuk mengikuti,” tegas Meutya Hafid dalam keterangan resminya hari Jumat (26/6).

Intinya, PP Tunas ini mewajibkan para Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) alias pemilik platform buat ngasih proteksi ekstra. Jadi, mereka wajib ketat soal batasan umur, ngejaga data pribadi anak, nge-blok konten-konten berbahaya, sampai nyediain fitur keselamatan khusus. Gak cuma sekadar nge-banned akun, pemerintah pengen para developer aplikasi ini ngerombak cara kerja platform mereka biar beneran aman dari awal.

Gak cuma TikTok dan YouTube, kabarnya sekitar 200 platform digital lain juga udah nyerahin dokumen self assessment ke pemerintah. Saat ini, Komdigi lagi sibuk meriksa berkas-berkas itu buat nentuin mana aja platform yang punya risiko tinggi buat anak-anak. Tapi ingat ya, kata Ibu Menteri, aturan ini gak bakal sukses total kalau cuma ngandelin pemerintah. Butuh banget kerja sama dari orang tua, masyarakat, media, dan komitmen dari platformnya sendiri.

Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: kompas.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.

Anda mungkin suka

Tinggalkan Komentar