Home BeritaMandiri Tanpa Sponsor, Festival Lima Gunung Siap Digelar

Mandiri Tanpa Sponsor, Festival Lima Gunung Siap Digelar

by CeritaBerita

Kabar gembira bagi para pencinta seni dan budaya di tanah air. Festival Lima Gunung (FLG) yang ke-25 bersiap untuk kembali menyapa masyarakat. Acara tahunan yang sangat dinantikan ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari berturut-turut, mulai dari hari Jumat, (10/7), hingga Minggu, (12/7). Festival berskala besar ini akan diselenggarakan di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah—sebuah wilayah yang asri di kawasan lereng Gunung Merbabu.

Sebagai informasi, gelaran unik ini dibesut oleh Komunitas Lima Gunung. Mereka adalah kelompok seniman independen yang bermukim di sekitar lima gunung yang mengitari wilayah Magelang, yaitu Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Adapun sosok penting di balik komunitas dan festival legendaris ini adalah Sutanto Mendut, seorang budayawan asal Magelang yang telah merintis FLG sejak tahun 2002 silam.

Konsistensi Tanpa Sponsor dan Seleksi Ketat Penampilan

Ada satu hal luar biasa yang terus dipertahankan oleh Komunitas Lima Gunung hingga saat ini. Ketua Komunitas Lima Gunung, Sujono, menegaskan bahwa mereka tetap teguh pada kebijakan idealis untuk melaksanakan festival tanpa bantuan sponsor komersial ataupun kucuran dana pemerintah. Kemandirian ini justru memperkuat solidaritas mereka dengan berbagai jejaring sosial, kelompok kesenian, dan para tokoh masyarakat dari bermacam-macam latar belakang.

Pada perayaan ke-25 tahun ini, antusiasme peserta sangat luar biasa. Tercatat ada sekitar 85 grup kesenian dengan total 1.274 seniman dari berbagai daerah yang siap tampil. Ragam pertunjukan yang disuguhkan pun sangat kaya, mulai dari tarian tradisional, tari kontemporer, teater, dramatic reading, musik noise, hingga prosesi kirab budaya yang megah.

Jadwal Padat Tiga Hari Penuh Warna

Untuk menjaga kualitas acara agar tidak asal-asalan, pihak panitia menerapkan sistem kurasi yang sangat ketat pada tahun ini. Salah satu aturan barunya adalah pembatasan durasi tampil maksimal 15 menit saja untuk pementasan dari siang hingga malam hari. Langkah ini diambil agar dinamika panggung tetap menarik dan memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh pengisi acara.

Setiap harinya, festival akan dimulai sejak pagi pukul 09.30 WIB hingga malam hari pukul 22.30 WIB. Beberapa penampil besar dijadwalkan hadir mengisi slot utama. Pada hari Jumat, grup musik Kyai Kanjeng akan menjadi penampil pamungkas pada pukul 20.30 WIB. Hari Sabtu akan ditutup dengan meriah oleh tari topeng ireng Satria Bintang Rimba. Sementara itu, pada hari terakhir, Minggu malam, pertunjukan megah bertajuk “Bramanti Sundari” dari Sekar Kudho Budi Utomo akan menjadi penutup manis dari rangkaian festival kebudayaan yang mandiri ini.

Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: kompas.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.

Anda mungkin suka

Tinggalkan Komentar