Dunia internasional lagi dihebohkan sama kabar super tragis dari Prancis, nih. Menteri Kehakiman Prancis, Gerald Darmanin, mendadak jadi sorotan tajam dan panen hujatan dari publik. Parahnya lagi, meskipun masyarakat udah telanjur emosi tingkat dewa, Darmanin secara tegas menolak buat mengundurkan diri dari jabatannya. Gelombang kemarahan publik ini muncul setelah netizen dan warga lokal mengendus adanya kelalaian parah dari pihak peradilan terkait kasus pembunuhan sadis yang menimpa seorang bocah perempuan berumur 11 tahun.
Korban yang diketahui bernama Lyhanna ini ditemukan dalam kondisi udah gak bernyawa. Berdasarkan laporan dari AFP pada Selasa (9/6), jenazah Lyhanna baru ditemukan pekan lalu setelah dirinya sempat dilaporkan hilang misterius sejak tanggal 29 Mei. Lokasi penemuan jasad bocah malang ini berada di dekat kota Fleurance, sebuah wilayah di Prancis bagian barat daya. Kasus ini langsung viral dan bikin publik murka karena otoritas penegak hukum di sana dianggap bener-bener lalai dan lambat bergerak.
Gimana gak emosi, tersangka pembunuhan yang berumur 41 tahun ini ternyata adalah ayah dari temen sekolah korban sendiri. Yang bikin makin geleng-geleng kepala, si tersangka ini sebenernya udah pernah dilaporkan ke pihak berwajib atas tuduhan pemerkosaan anak beberapa bulan sebelum Lyhanna dinyatakan hilang. Bahkan, rekam jejaknya menunjukkan dia udah dua kali secara resmi dituduh memperkosa anak di bawah umur. Salah satu laporan hukumnya malah udah masuk dari Agustus tahun lalu. Tapi anehnya, penyelidikan dari pihak kepolisian malah mandek, dan mereka sama sekali belum menginterogasi si pelaku sampai akhirnya Lyhanna diculik dan dibunuh sembilan bulan kemudian.
Sistem Hukum Bobrok, Puluhan Ribu Kasus Diperiksa Ulang!
Sadar kalau instansinya kecolongan besar, Darmanin akhirnya menyampaikan permohonan maaf ke publik pada Jumat (5/6). Dia mengakui kalau ada “kegagalan besar” dalam penanganan laporan awal terhadap tersangka. Biar gak makin dihujat, Darmanin langsung gerak cepat memerintahkan jaksa buat meriksa ulang sekitar 70.000 aduan hukum di seluruh Prancis yang berkaitan sama dugaan kejahatan terhadap anak. Pas ditanya wartawan soal desakan mundur, dia dengan santai ngejawab kalau posisi dia di pemerintahan baru bakal dipertanyakan kalau dia lari dari tanggung jawab.
Tapi, pembelaan dari pihak penegak hukum juga muncul. Kepala serikat hakim, Ludovic Friat, ngirim surat ke Darmanin yang isinya curhatan kalau jumlah jaksa di Prancis itu empat kali lebih sedikit dibanding rata-rata negara Eropa lainnya. Jadi, mereka keteteran banget buat nanganin semua laporan yang masuk. Data dari komisi independen CIIVISE bahkan nunjukkin fakta miris kalau cuma tujuh persen dari aduan pelecehan seksual anak di Prancis yang bener-bener berakhir dengan vonis hukuman penjara.
Tragedi Lyhanna ini akhirnya memicu gerakan yang lebih masif di Prancis. Ketua parlemen Prancis, Yael Braun-Pivet, langsung mendesak pemerintah buat cepetan ngesahin RUU yang fokus memerangi pelecehan seksual dengan sistem pelatihan yang lebih oke buat polisi dan hakim. Publik berharap gak ada lagi korban instansi yang mager kayak gini.(l)
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: detik.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.