Pengacara senior Elza Syarief baru aja mengeluarkan statemen bombastis yang dikutip pada Rabu (17/6). Berdasarkan pengamatannya selama mendampingi sang klien sampai Senin (15/6) kemarin, Elza ngerasa ada yang gak beres sama mantan Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya.
Elza mencium bau-bau kebohongan dan menilai Sony masih berusaha menutup-nutupi dalang utama di balik kasus mega proyek ini. Meskipun Sony udah mengajukan diri sebagai Justice Collaborator (JC) biar hukumannya diringankan, Elza ngerasa itu cuma kedok saja. “Saya merasa ada yang dibuka (Sony), ada yang dilindungi,” sentil Elza pedas ke awak media di Jakarta.
Merasa Dihalang-halangi Tim Hukum Lain Karena Dianggap Terlalu Bahaya
Kecurigaan Elza makin diperkuat karena selama proses hukum berjalan, dia mengaku kerap dipersulit pas mau ketemuan langsung sama Sony. Usut punya usut, yang hobi nyari perkara dan nge-blok akses Elza adalah adik Sony sendiri dan pengacara lain di tim tersebut, yaitu Krisna Murti.
Elza menduga kuat kalau pihak keluarga dan Krisna Murti ketakutan kalau kedok busuk Sony bakal terbongkar kalau terus-terusan didampingi sama dirinya yang terkenal vokal dan blak-blakan. “Sepertinya tidak mau saya sebagai kuasanya karena takut terbuka kedoknya, mereka merasa saya berbahaya,” curhat Elza. Gara-gara hal ini pula, Elza menilai pengajuan status JC Sony bakalan susah dikabulkan sama Kejaksaan Agung (Kejagung). Gimana mau jadi JC kalau dari awal aja udah gak jujur soal aliran dana rutin yang dia terima dari tersangka Asep Yusuf Somantri?
Jual Beli Proyek Yayasan Berkedok Makan Gratis
Biar kalian gak bingung, Kejagung sejauh ini udah menetapkan total lima orang tersangka dalam pusaran kasus korupsi MBG ini. Daftarnya gak main-main, guys, mulai dari eks Kepala BGN Dadan Hindayana, eks Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, kaki tangan Sony bernama Asep Yusuf Somantri (AYS), sampai Komisaris PT. Yasa Artha Trimanunggal (YAT), Andri Mulyono.
Modus operandinya asli bikin ngelus dada. Jadi, program makan gratis ini harusnya dikelola secara bersih oleh yayasan Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang resmi terafiliasi dengan sekolah penerima. Tapi kenyataannya? Banyak SPPG siluman yang ditunjuk cuma karena mereka punya jalur ordal alias afiliasi sama para petinggi BGN. Parahnya lagi, banyak yayasan yang aslinya gak lolos syarat tapi dipaksakan jadi mitra demi bagi-bagi jatah cuan haram.
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: cnn.imdonesia.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.