Gara-gara nilai tukar Rupiah yang makin merosot dan menyentuh level Rp18.000 per dolar AS, gelombang protes mulai pecah. Mahasiswa menilai angka ini bukan cuma angka biasa di papan bursa, tapi udah jadi alarm bahaya alias red flag tingkat dewa buat perekonomian Indonesia.
Nggak pakai lama, pada Jumat, (05/06), massa yang tergabung dalam Aliansi BEM SI Jawa Tengah langsung menggeruduk Kantor Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah yang berlokasi di Semarang. Aksi mereka kali ini bener-bener nekat dan penuh totalitas. Nggak cuma modal orasi pakai toa, para mahasiswa ini juga menggelar aksi teatrikal dengan membakar uang imitasi dan membentangkan spanduk raksasa bertuliskan “Rupiah Sekarat”. Suasana makin memanas waktu massa aksi nekat menyegel gerbang Kantor BI Semarang sebagai simbol kalau mereka udah bener-bener mati kepercayaan sama kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi negara.
Bagi para mahasiswa, kalau Rupiah terus-terusan loyo, yang bakal paling menderita itu bukan para pejabat di kursi empuk, melainkan rakyat kecil. Harga kebutuhan pokok bakal meroket, biaya hidup makin mencekik, dan bayang-bayang gelombang PHK massal bakal terpampang nyata di depan mata.
Kasih Ultimatum 18 Hari, Siap-Siap Geruduk Jakarta!
Nah, yang bikin aksi unjuk rasa kali ini beda dari biasanya dan bikin ketar-ketir adalah adanya ultimatum keras. Mahasiswa nggak cuma datang buat komplain, tapi mereka resmi ngasih batas waktu alias ultimatum selama 18 hari kepada Prabowo Subianto, Menteri Keuangan Purbaya, dan Gubernur Bank Indonesia.
“18 hari untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia,” tegas perwakilan mahasiswa di tengah riuhnya aksi di Semarang.
Tuntutannya simpel tapi berat: pemerintah harus menunjukkan langkah konkret buat memperbaiki kondisi ekonomi dalam waktu kurang dari tiga minggu. Kalau dalam 18 hari ke depan Rupiah masih lemah, harga-harga makin mahal, dan nggak ada perbaikan sama sekali, mahasiswa mengancam bakal bikin gerakan yang jauh lebih epik.
Nggak main-main, aksi di Semarang pada Jumat (5/6) kemarin diklaim baru menu pembuka doang. Target mereka selanjutnya adalah membawa gelombang massa raksasa langsung ke Jakarta buat ngepung Bank Indonesia Pusat dan Kementerian Keuangan. Saat ini, konsolidasi nasional kabarnya lagi dipersiapkan matang-matang dengan melibatkan aliansi kampus dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, sampai Nusa Tenggara.
Sekarang, countdown alias hitung mundur 18 hari udah dimulai. Mampukah Prabowo ngejawab tantangan dan ultimatum keras dari para mahasiswa ini sebelum Jakarta bener-bener dipadati lautan jas almamater? Kita lihat aja kelanjutannya!