Kejaksaan Agung (Kejagung) baru aja membongkar skandal megakorupsi yang gokil banget di Badan Gizi Nasional (BGN). Bayangin aja, proyek pengadaan motor listrik buat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang nilainya mencapai Rp 1,1 triliun ternyata di-markup abis-abisan! Yang paling bikin emosi, duitnya udah dibayar lunas 100%, tapi fisik motor listriknya sendiri malah belum selesai dirakit sama sekali.
Kasus ini makin memanas setelah Penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung menetapkan satu tersangka baru. Pengumuman hot ini disampaikan langsung sama Direktur Penyidikan (Dirdik) Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, pas konferensi pers di gedung Kejagung, Jakarta, hari Jumat (12/6). Tersangka baru yang langsung dijeblosin ke rutan itu namanya Andri Mulyono, selaku Komisaris PT Yasa Artha Trimanunggal (PT YAT). Dia ini adalah vendor swasta yang dituduh jadi otak di balik penggelembungghaan harga alias markup gila-gilaan ini.
Modus Licik Atur HPS Biar Pas Sama Pagu Anggaran
Gimana sih cara mainnya sampai bisa dapet duit segede itu? Jadi begini ceritanya, si Andri ini diduga kongkalikong sama pihak internal BGN buat ngatur Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Tujuannya biar harga per unit motor listrik itu sengaja dibikin bengkak banget dan mepet-mepet sama pagu anggaran yang udah disiapin BGN. Menurut Pak Syarief, penetapan harga HPS ini jelas-jelas melawan hukum dan gak wajar banget. Total anggarannya kan sekitar Rp 1,1 triliun, nah nominal markup pastinya lagi dihitung intensif sama tim penyidik Kejagung.
Baca juga: Buntut Kasus Dadan, Istana Evaluasi Motor Listrik BGN
Parahnya lagi, PT YAT milik Andri ini sebenarnya sama sekali belum memenuhi syarat buat jadi vendor pengadaan resmi. Gimana mau nyediain motor, lah wong perusahaan mereka aja gak punya dealer resmi ataupun bengkel aktif di Indonesia! Padahal, proses tender atau pengadaannya sendiri aja belom resmi dimulai, tapi mereka udah bisa masuk dan ngacak-ngacak anggaran.
Duit Lunas 100% tapi Motor Masih Berwujud Komponen
Nggak cuma sampai di situ kelakuannya yang bikin elus dada. Si Andri ini dengan teganya memanipulasi Berita Acara Serah Terima (BAST). Di dokumen fiktif itu tertulis seolah-olah perakitan sepeda motor listrik udah kelar sempurna dan sesuai sama spesifikasi standar BGN. Berkat surat sakti hasil manipulasi itu, cair deh duit 100% dari BGN ke rekening vendor. Padahal realitanya, motor-motor itu masih pretelan alias belum dirakit, dan spesifikasi aslinya jauh banget di bawah standar kebutuhan program MBG.
Dengan ditetapkannya Andri, total tersangka dalam pusaran korupsi tata kelola MBG ini sekarang jadi lima orang. Sebelumnya, mantan petinggi BGN kayak Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, Lodewyk Pusung, dan orang dekatnya yang bernama Asep Yusuf Somantri udah duluan masuk bui. Sekarang si Andri dijerat Pasal 603 dan 604 KUHP tentang tindak pidana korupsi yang merugikan keuangan negara. Kabar paling barunya, Sony Sonjaya malah mau mengajukan diri jadi justice collaborator dan udah sebut 26 nama lain di BAP.
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: detik.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.