Sebuah acara pesta pernikahan di Kota Kuhestak, Kabupaten Sirik, Provinsi Hormozgan, Iran selatan mendadak berubah menjadi kepanikan hebat pada Selasa (1/9). Tempat berlangsungnya hajatan bahagia tersebut hancur diterpa serpihan rudal dari serangan militer Amerika Serikat. Peristiwa memilukan ini menambah daftar panjang korban jiwa di tengah panasnya situasi wilayah kawasan strategis Selat Hormuz.
Berdasarkan konfirmasi dari Organisasi Bulan Sabit Merah Iran, dampak hantaman rudal tersebut merusak rumah tinggal yang tengah menggelar perayaan. Pihak berwenang mencatat sedikitnya empat orang meninggal dunia di tempat kejadian—termasuk di antaranya seorang anak kecil—serta mengakibatkan lebih dari 50 orang tamu undangan mengalami luka-luka.
Unggahan video resmi dari pemerintah setempat memperlihatkan kondisi bangunan yang hancur parah dan dipenuhi reruntuhan. Di tengah kehancuran lokasi pesta pernikahan, terdengar jelas suara jeritan warga dan keluarga korban yang panik mencari kerabat mereka. Para korban luka kini telah dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis darurat.
Klaim Target Militer dan Eskalasi Konflik di Selat Hormuz
Di sisi lain, pihak Amerika Serikat menyatakan bahwa serangan rudal tersebut sebenarnya diarahkan ke sasaran milik Korps Garda Revolusi Iran. AS mengklaim tindakan militer ini dilakukan sebagai bentuk aksi balasan atas gangguan terhadap pelayaran komersial serta ancaman bagi personel militer mereka di sekitar Selat Hormuz. Namun, hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai target spesifik militer yang disasar di wilayah Kabupaten Sirik hingga mengenai kawasan permukiman warga.
Selain kehancuran di Sirik, media lokal Iran juga melaporkan kemunculan rentetan ledakan di berbagai kota lain di sepanjang Selat Hormuz dan area Provinsi Kerman. Ketegangan bersenjata antara kedua negara ini terus mengalami peningkatan tajam sejak akhir Februari 2026 pasca-tewasnya pimpinan tertinggi Iran dalam operasi militer gabungan.
Rangkaian aksi saling balas serangan di kawasan Timur Tengah membuat prospek perdamaian terasa makin jauh dari harapan. Warga sipil kembali harus menanggung dampak paling parah dari konflik internasional ini, di mana momen perayaan bahagia seperti pernikahan pun tak luput dari ancaman bahaya.
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: kompas.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.