Suasana di Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur mendadak mencekam pada Selasa (1/9). Lebih dari 100 santri diduga mengalami keracunan massal usai menyantap hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa tragis ini langsung membuat para pengurus pesantren dan orang tua santri panik.
KH Abdul Wahid Harun, selaku Pengasuh sekaligus Ketua Yayasan Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, menceritakan bahwa peristiwa ini bermula seusai para santri melaksanakan ibadah salat Zuhur. Saat itu, anak-anak menyantap jatah makanan program MBG seperti biasa. Namun, tak berselang lama, kondisi kesehatan para santri mulai menunjukkan gejala yang mencurigakan.
Gejala awal mulai terasa beberapa saat setelah mereka selesai menunaikan salat Asar. Sejumlah santri mengeluhkan rasa mual yang hebat hingga akhirnya muntah-muntah. Awalnya hanya beberapa anak yang mengalaminya, tetapi dalam waktu singkat jumlah santri yang menderita gejala serupa justru terus membengkak secara drastis.
Penanganan Medis dan Kepanikan Wali Santri
Melihat kondisi anak-anak yang semakin memburuk, pihak pengurus pesantren bergerak cepat untuk mengevakuasi para korban. Satu per satu santri dilarikan ke sejumlah rumah sakit terdekat di wilayah Sidoarjo agar segera mendapatkan perawatan medis yang intensif dari tim dokter.
Gus Wahid menjelaskan bahwa santri yang terdampak merupakan murid tingkat SMP dan SMA, atau setara Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Hingga Selasa malam, tercatat ada lebih dari 100 santri yang harus dilarikan ke fasilitas kesehatan. Jumlah ini merupakan bagian dari total sekitar 1.000 santri yang menimba ilmu dan tinggal di dalam fasilitas asrama pondok pesantren tersebut.
Situasi di beberapa rumah sakit penerima pasien pun berubah menjadi sangat ramai. Kedatangan puluhan ambulans disusul oleh rombongan wali santri yang berbondong-bondong datang karena panik ingin memastikan kondisi kesehatan anak-anak mereka secara langsung.
Pihak pesantren bersama instansi kesehatan setempat kini fokus memastikan seluruh santri yang dirawat mendapatkan penanganan terbaik hingga kondisi mereka benar-benar pulih. Sampai berita ini diturunkan, investigasi lebih lanjut masih dilakukan untuk mengetahui secara pasti penyebab dari dugaan keracunan makanan massal tersebut.