Home Ekonomi BisnisNiat Damai Batal, Harga Minyak Dunia Malah Melonjak

Niat Damai Batal, Harga Minyak Dunia Malah Melonjak

by CeritaBerita

Harga minyak mentah dunia dilaporkan kembali menguat pada hari Senin, (22/6). Lonjakan harga komoditas likuid ini terjadi gak lama setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, ngasih ancaman keras bakal balik ngelakuin aksi militer terhadap Iran. Gertakan maut dari Trump ini otomatis bikin pelaku pasar cemas kalau perjanjian damai sementara yang baru aja disepakati pekan lalu bakal hancur lebur di tengah jalan.

Berdasarkan data dari CNBC pada Senin pekan ini, Trump ngelontorin ancaman tersebut hari Minggu, (21/6). Padahal di waktu yang bersamaan, Wakil Presiden AS, JD Vance, mau ketemu perwakilan Iran di Burgenstock, Swiss, buat ngebahas kelanjutan kesepakatan damai. Suasana makin keruh setelah pihak Teheran tiba-tiba ngumumin kalau mereka bakal nutup kembali Selat Hormuz—yang merupakan jalur paling krusial buat pengiriman minyak global. Akibat drama politik ini, harga minyak mentah Brent buat kontrak Agustus langsung naik 1,23% ke angka US$ 81,56 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juli melonjak sampai 3,04% ke level US$ 78,93 per barel.

Gencatan Senjata yang Rapuh dan Bayang-Bayang Krisis Pasokan

Padahal kalau ditarik ke belakang, diskusi di Swiss itu adalah negosiasi perdana setelah Washington dan Iran sepakat tanda tangan nota kesepahaman buat nyelesein konflik dan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Perjanjian itu harusnya ngebuka lagi akses Selat Hormuz dan nyetop perang di kawasan Timur Tengah, termasuk Lebanon. Tapi, Iran nuduh AS gagal ngejaga perdamaian di Lebanon, makanya situasi jadi balik memanas.

Pakar strategi dari Quantum Strategy, David Roche, sempet ngasih peringatan kalau stok minyak mentah yang melimpah saat ini tuh cuma efek dari likuidasi persediaan di kapal tanker, bukan karena produksi minyaknya yang beneran pulih. Jadi, begitu stok darurat ini habis, pasar bakal bener-bener rentan. Ditambah lagi analis Goldman Sachs juga ikutan dengan bilang kalau guncangan pasokan kayak gini terus-terusan terjadi, masyarakat dunia bakalan makin cepat transisi ke kendaraan listrik (EV) yang bisa ngerusak permintaan minyak jangka panjang.

Kilas Balik Pekan Lalu: Drama Pembatalan Pertemuan yang Bikin Spekulasi

Sebelum lonjakan hari ini, harga minyak Brent sebenarnya udah sempet merangkak naik pada hari Jumat, (19/6). Waktu itu, pasar panik karena pertemuan AS-Iran di Swiss tiba-tiba dibatalkan sepihak karena alasan logistik, dan JD Vance batal terbang ke Swiss. Beruntung, tensi sempet rada adem pas akhir pekan karena kapal tanker pembawa 12 juta barel minyak sempet lewat dengan aman tanpa ditembaki Iran. Analis minyak dari Axi, Tiago Lacerda, memprediksi kalau dalam waktu dekat harga minyak dunia bakal bermain di rentang US$ 75 sampai US$ 82 per barel. Meski sempat turun 36% dari puncak tertingginya selama perang, pasar saat ini masih bersikap super hati-hati dan wait and see melihat kecepatan normalisasi jalur pelayaran utama dunia.

Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: liputan6.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.

Anda mungkin suka

Tinggalkan Komentar