Suasana di kawasan Simpang Gladag, Solo, pada Selasa (7/7) pagi mendadak riuh dan menyita perhatian warga yang melintas. Bukan karena adanya parade budaya atau acara hiburan, melainkan aksi protes unik yang digelar oleh puluhan peternak lokal. Untuk meluapkan kekecewaan atas kondisi ekonomi yang kian menjepit, mereka menggelar aksi teatrikal yang tak biasa, yakni aksi mandi telur langsung di jalanan.
Aksi menarik perhatian ini menjadi jalan terakhir bagi para peternak untuk menyuarakan penderitaan mereka. Bagaimana tidak? Saat ini harga ayam potong dan telur ayam di pasaran sedang merosot tajam. Kondisi ini membuat para peternak kelimpungan karena pendapatan yang diterima jauh dari kata cukup untuk menutup modal usaha.
Harga Jual Anjlok Parah di Bawah Biaya Produksi
Akar masalah dari jeritan para peternak ini adalah ketimpangan yang sangat jauh antara harga jual di pasaran dengan biaya produksi yang harus mereka keluarkan setiap harinya, di mana harga ayam hidup di tingkat peternak menyusut drastis hingga Rp13.000 per kilogram dari biaya produksi sebesar Rp20.000 per kilogram, sementara harga jual telur ayam ikut merosot ke angka Rp17.000 per kilogram dari biaya operasional dan pakan yang menelan biaya hingga Rp23.000 per kilogram.
Selisih harga yang terlampau jauh ini memicu kerugian besar-besaran. Tak tanggung-tanggung, banyak peternak yang mengaku sudah menelan kerugian mulai dari ratusan juta hingga menyentuh angka miliaran rupiah. Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus tanpa ada intervensi, bukan tidak mungkin banyak usaha peternakan warga yang terancam gulung tikar dalam waktu dekat.
Maraknya Impor dan Anjloknya Daya Beli Jadi Pemicu
Dalam pergerakan aksi tersebut, para peternak membeberkan beberapa faktor utama yang menjadi pemicu hancurnya harga pasar. Menurut analisis mereka di lapangan, banjirnya barang impor serta kondisi kelebihan pasokan (over supply) menjadi penyebab utama melimpahnya stok di pasaran. Situasi ini kian diperparah dengan tingkat daya beli masyarakat yang belakangan ini dirasakan semakin menurun drastis.
Sebagai bentuk kepedulian sekaligus simbol kepasrahan, para peternak tidak hanya menggelar aksi teatrikal mandi telur saja. Di akhir kegiatan, mereka juga membagikan ayam-ayam hidup secara gratis kepada warga dan pengguna jalan yang melintas di area Simpang Gladag. Langkah ini diambil daripada membiarkan ternak mereka terus merugi di kandang.
Melalui aksi yang digelar pada Selasa pagi tersebut, para peternak sangat berharap penderitaan mereka bisa didengar oleh pihak-pihak terkait. Mereka mengharapkan adanya langkah nyata dan solusi cepat dari pemerintah untuk menstabilkan kembali harga pasar demi menyambung napas piring nasi para peternak lokal.