Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, saat ini sedang menghadapi tantangan yang sangat besar dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045. Berdasarkan data terbaru hingga semester pertama tahun 2026, tercatat ada sebanyak 146.404 keluarga di Wonosobo yang masuk dalam kategori berisiko mengalami stunting. Menyikapi persoalan yang pelik ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo tidak tinggal diam. Mereka memilih strategi unik dengan memperkuat institusi keluarga lewat peluncuran program inovatif bernama Gerakan WAYAH (Waktu Bersama Ayah) dan Kelas AMAN (Ayah Idaman). Peluncuran ini dilakukan langsung di Pendopo Bupati Wonosobo pada hari Senin, (6/7), bertepatan dengan puncak Festival Cinta Keluarga IV.
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menegaskan bahwa kemajuan suatu daerah tidak melulu soal pembangunan infrastruktur fisik seperti jalan yang mulus atau jembatan yang kokoh. Menurutnya, investasi yang paling menentukan masa depan adalah pembangunan manusianya, dan hal itu selalu berawal dari unit terkecil yaitu keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama tempat anak-anak belajar nilai kehidupan dan membentuk karakter mereka.
Mengikis Stigma “Mengasuh Anak Cuma Tugas Ibu”
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Afif menyoroti fenomena di lapangan di mana urusan mengasuh anak selama ini masih dianggap sebagai tugas mutlak seorang ibu saja. Melalui Gerakan WAYAH dan Kelas AMAN, Pemkab Wonosobo ingin mendobrak pola pikir lama tersebut.
Anak-anak dinilai sangat membutuhkan kehadiran figur ayah secara utuh, baik secara fisik maupun emosional. Gerakan ini juga mengajak seluruh sosok pria dewasa di rumah, seperti kakek atau paman, untuk ikut peduli sejak masa kehamilan istri hingga proses tumbuh kembang anak.
Tantangan zaman sekarang memang semakin rumit. Kepala Dinas DPPKBPPPA Wonosobo, Dyah Retno Sulistyowati, menyebutkan bahwa selain stunting, derasnya teknologi digital juga mulai menjauhkan hubungan antaranggota keluarga. Banyak yang tinggal serumah tetapi jarang mengobrol karena sibuk dengan gawai masing-masing. Dyah mengingatkan secara filosofis bahwa tidak ada algoritma atau aplikasi canggih apa pun yang bisa menggantikan kehangatan nasihat seorang ayah dan kasih sayang ibu.
Masalah Pernikahan Usia Anak dan Kekerasan di Rumah
Selain itu, Wonosobo juga masih berjuang melawan masalah klasik. Hingga akhir tahun 2025, tercatat ada 264 kasus pernikahan dini yang mayoritas terjadi pada masa transisi dari SMP ke SMA, yang memicu anak putus sekolah. Belum lagi ada 42 kasus kekerasan perempuan dan anak yang tercatat sejak Februari 2026.
Untuk mengatasi kompleksitas ini, Pemkab Wonosobo terus menggenjot kolaborasi dan kini telah berhasil membentuk 175 Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) demi memastikan program ketahanan keluarga ini berjalan nyata di masyarakat.
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: kompas.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.