Sabtu (6/6), bertempat di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, akhirnya buka suara soal kondisi nilai tukar Rupiah yang lagi “drama” banget. Bayangin aja, mata uang kebanggaan kita ini sempat down sampai nembus angka Rp18.000 per dolar AS. Rekor terlemah sepanjang sejarah.
Tapi tenang, Pak Perry nggak tinggal diam. Beliau menegaskan kalau BI dan pihak fiskal (Kemenkeu) lagi kompak banget, alias chemistry nya dapet buat nyelametin Rupiah. Mereka lagi fokus bikin strategi biar fiskal dan moneter itu seirama, biar nggak jalan sendiri-sendiri kayak orang lagi marahan.
Dua Jurus Maut Perry Buat Jinakin Dolar
Di depan para anggota dewan, Pak Perry Warjiyo selaku Bos Bank Indonesia baru aja “nge-spill” dua strategi andalan buat nahan mata uang Rupiah biar nggak makin melempem. Langkah taktis ini diambil buat merespons kondisi pasar global yang lagi hobi bikin Rupiah ketar-ketir. Intinya sih, BI pengen banget balikin kepercayaan para pelaku pasar sekaligus mastiin stabilitas ekonomi dalam negeri tetep aman terkendali di tengah situasi yang lagi nggak menentu ini.
Strategi pertama fokusnya adalah buat narik balik modal asing yang belakangan ini lagi seneng “mudik” alias keluar dari Indonesia, gara-gara bunga di luar negeri kelihatan lebih menggiurkan. Nah, biar para investor asing itu mau balik lagi, BI bakal naikin imbal hasil atau keuntungan investasi di instrumen lokal kayak SRBI dan SBN. Dengan tawaran cuan yang dibuat lebih seksi dan kompetitif ini, harapannya para investor global bakal kepincut lagi buat nanam modalnya di sini, yang otomatis bakal bikin Rupiah kita jadi makin bertenaga.
Sementara itu, strategi yang kedua adalah dengan menjaga “napas” likuiditas alias ketersediaan dana di pasar uang dan perbankan nasional supaya tetep aman. Pihak BI bareng pemerintah berkomitmen buat ngelola kas negara dengan super cermat, termasuk urusan nyelarasin bunga operasi moneter. Lewat kerja sama yang kompak antara kebijakan moneter dari BI dan kebijakan fiskal dari pemerintah, harapannya aliran dana di pasar tetep lancar jaya sekaligus bisa ngerem pelemahan Rupiah lebih jauh.
Rupiah Sempat Menguat Tipis, Tapi Masih Perlu Waspada
Kalau kita liat data terakhir pada Jumat (5/6), Rupiah sebenarnya sempat ditutup menguat, sekitar 13 poin (0,07%) ke level Rp18.036 per dolar AS. Ya, walaupun naik tipis, tetep aja angka ini masih di level paling bawah sepanjang sejarah.
Menariknya, di tengah isu ekonomi yang lagi panas ini, Menkeu Purbaya juga sempat angkat bicara. Beliau bilang kalau angka Rp18.000 ini sebenarnya masih masuk dalam hitungan pemerintah. Bahkan, Menkeu Purbaya sempet nepis rumor kalau dirinya bakal kena reshuffle gara-gara Rupiah anjlok. “Nggak ada itu, itu cuma rumor!” tegasnya.
Jadi, buat kalian yang lagi pantau kurs, mending tetep tenang dan jangan panik. Pemerintah dan BI lagi berusaha keras biar ekonomi kita tetep stabil dan nggak makin boncos. Kita pantau terus deh, apakah strategi “seirama” ini bakal sukses bikin Rupiah kita kembali perkasa atau malah sebaliknya.
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: inews.id tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.