Duh, kabar kurang sedap datang dari mata uang garuda kita, nih. Pada perdagangan Jumat (29/5), rupiah resmi ditutup di level terendah sepanjang masa, yaitu melemah 0,2% ke posisi Rp17.881 per dolar AS. Bahkan, si rupiah sempat loyo banget dan nyenggol angka Rp17.905 per dolar AS pada jam dua siang. Kalau dihitung-hitung dalam sepekan, mata uang kita udah merosot 0,93% dari pekan lalu yang masih di level Rp17.717. Kurang apes apa coba?
Padahal, Bank Indonesia (BI) dan pemerintah udah melakukan berbagai cara biar rupiah nggak makin terjun bebas. BI bahkan udah naikin suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 bps jadi 5,25% pada 20 Mei lalu. Alih-alih bikin rupiah perkasa dan nahan inflasi, jurus ini ternyata belum ampuh.
Hasan Zein: Tata Kelola Negara yang Rusak Tanpa Perbaikan Nyata
Mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein, menilai kalau akar masalahnya bukan di kebijakan moneter. Menurut beliau, tata kelola negara yang rusak tanpa perbaikan nyata bikin ekonomi Indonesia kayak batu yang jatuh ke lumpur. BI sebetulnya udah ngelakuin semua tugasnya: intervensi pasar, batesin beli valas, sampai borong Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Asal tahu aja, per 22 Mei, BI jadi pemilik SBN tertinggi dibanding institusi lain, yakni mencapai 27,48% atau setara Rp1.881,76 triliun! Angka ini melonjak tajam dibanding akhir tahun lalu yang cuma Rp1.641,66 triliun. Padahal, beli SBN itu bukan tugas utama BI, melainkan taktik darurat biar imbal hasil SBN nggak meroket. Tapi ya itu, dolar AS di luar sana tetep terbang tinggi!
Hasan Zein menegaskan kalau masalah aslinya ada di fundamental ekonomi kita yang lagi carut-marut. Coba deh intip indikatornya: pembayaran utang luar negeri melonjak, investor asing pull out alias kabur massal dari saham dan SBN, defisit APBN melebar, cadangan devisa menyusut, sampai kuota ekspor produk yang lagi laku malah diturunkan. Gak heran kalau para investor global jadi males invest ke Indonesia. “Bersediakah Anda menanamkan uang dengan sistem yang tidak bisa dipercaya?” sindir Hasan.
Kalau fundamental dan tata kelola nggak segera dibenahi, jangan heran kalau rupiah bakal makin susah buat comeback. Yuk, kita pantau terus perkembangannya!
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: kontan.co.id tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.