Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS makin hari makin loyo dan gak terbendung lagi. Tepat pada hari Kamis (4/6), Mata uang kita bikin heboh pasar keuangan setelah resmi menjebol level Rp 18.000 per dollar AS untuk pertama kalinya dalam sejarah! Ini bener-bener jadi posisi paling lemah sepanjang sejarah Indonesia merdeka.
Mengutip data dari Bloomberg, pas pasar dibuka pagi tadi di Jakarta, rupiah langsung merosot 37 poin ke posisi Rp 18.003 per dollar AS. Gak stop sampai di situ, sekitar pukul 09.15 WIB, posisinya malah makin babak belur ke angka Rp 18.014,5 per dollar AS. Padahal, indeks dolar AS sebenarnya lagi agak jinak karena turun tipis ke level 99,44. Menurut analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, kondisi ini dipicu sama tensi geopolitik di Timur Tengah yang lagi panas-panasnya plus data ekonomi AS yang lagi bagus banget. Alhasil, investor pada kabur borong dolar, deh!
Bank Indonesia Gak Tinggal Diam, Langsung Keluarin Jurus Pembatasan Dolar!
Melihat rupiah yang makin kritis, Bank Indonesia (BI) langsung pasang badan dan gerak cepat. BI langsung ngeluarin berbagai jurus intervensi agresif biar pasar gak makin panik. Salah satu langkah ekstrem yang diambil adalah memperketat batas alias threshold pembelian dollar AS tanpa underlying (tanpa bukti kebutuhan jelas).
“Mulai (02/06), Bank Indonesia telah memberlakukan ketentuan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi 25 ribu dollar AS per pelaku per bulan,” jelas Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso.
Kebijakan ini bener-bener diperketat banget. Soalnya pada April 2026 lalu batasnya masih 50 ribu dollar AS, dan sekarang dipangkas setengahnya! Gak cuma itu, Gubernur BI Perry Warjiyo juga mengungkapkan kalau Presiden Prabowo Subianto udah ngasih arahan langsung buat jalanin 7 langkah strategis. BI mulai gencar ngedorong transaksi pake mata uang lokal (LCT) bareng negara mitra kayak China, Jepang, dan Korsel biar kita gak ketergantungan lagi sama dollar AS.
Perry juga menegaskan kalau pelemahan ini cuma fenomena jangka pendek akibat faktor musiman, kayak bayar utang luar negeri dan kebutuhan jamaah haji. Menurutnya, fundamental ekonomi kita aslinya masih kuat banget dengan pertumbuhan mencapai 5,61% di kuartal I-2026. Jadi, BI optimis kalau rupiah aslinya undervalue dan bakalan bisa menguat lagi ke depannya.
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: ekonomi.republika.co.id tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.