Pasca serangan udara Israel ke Lebanon pada Rabu (8/4) yang ngebunuh sekitar 182 orang, Iran langsung ngasih ancaman keras buat lanjutin pertempuran secara terbuka. Otoritas kesehatan Lebanon juga lapor kalau ada lebih dari 900 orang yang luka-luka akibat insiden berdarah itu.
Konflik ini makin panas gara-gara beda pandangan antara kubu Amerika Serikat (AS)-Israel sama Iran soal gencatan senjata. Iran mau Lebanon masuk dalam kesepakatan damai, tapi AS secara tegas bilang: “Gak bisa!”.
Wakil Presiden AS, JD Vance, bilang kalau proposal 10 poin dari Iran itu nggak nyambung sama kesepakatan awal.
“Kalau Iran biarin negosiasi ini gagal cuma gara-gara Lebanon, itu pilihan mereka sendiri,” tegas Vance.
Nggak tinggal diem, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, langsung ngegas di platform X. Dia nuduh AS udah langgar aturan main karena nerbangin drone ke wilayah udara Iran dan ngehalangin hak mereka soal uranium. Kata Ghalibaf, obrolan damai sekarang udah nggak masuk akal lagi!
Ngerespons gempuran Israel, kelompok Hezbollah langsung gercep nembakin roket ke wilayah Manara, Israel utara, pada Kamis (9/4). Mereka ngerasa punya hak buat bales dendam karena gencatan senjata udah dilanggar. Korps Garda Revolusi Islam Iran juga udah wanti-wanti bakal kasih “balesan mematikan” kalau serangan militer nggak distop sekarang juga.
Sekjen PBB, Antonio Guterres, sampe ikutan panik. Lewat juru bicaranya, dia ngingetin kalau aksi militer di Lebanon ini bahaya banget buat perdamaian dunia dan bisa makan banyak korban sipil lagi.
Sampe detik ini, situasi masih chaos banget. Pakistan pun masih terus nyoba jadi penengah biar nggak pecah perang skala besar yang bisa aja ngelibatin senjata nuklir.
Duh, semoga ada jalan tengah biar perang berhenti dan nggak makin banyak korban yang berjatuhan ya, Guys! 🌍
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: detik.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.