Rudy Ma’sud, blak-blakan ngeluh gara-gara anggaran Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat dipangkas abis-abisan sampai 30 persen buat tahun anggaran 2026. Curhatan colongan yang penuh tekanan ini disampaikan langsung oleh Rudy saat menghadiri rapat kerja bareng Komisi II DPR RI di Senayan, Jakarta, pada Senin, (08/06).
Rudy ngejelasin kalau sebelumnya dana TKD buat Kaltim itu tembus di angka Rp78,04 triliun. Tapi apesnya, tahun ini angkanya merosot tajam dan cuma tersisa Rp52,83 triliun buat dibagi-bagi ke tingkat provinsi sampai kabupaten/kota. Pemotongan yang super gede ini otomatis bikin pusing tujuh keliling, karena sangat memengaruhi operasional daerah.
“Hari ini hanya tinggal Rp 52,83 triliun untuk provinsi dan kabupaten-kota yang ada di Kalimantan Timur. Jadi lebih 30% hari ini memang dana TKD kami dipangkas,” ucap Rudy di depan para anggota dewan di Senayan (8/6).
Nggak cuma nominalnya yang menyusut, Rudy juga nemu fakta kalau sampai bulan Juni 2026 ini, pencairan dana TKD yang diterima Kaltim baru nembus kisaran 30 persen. Padahal idealnya, karena udah masuk pertengahan tahun (bulan enam), dana yang cair harusnya udah di angka 45 sampai 50 persen. Efek seretnya duit dari pusat ini bikin kegiatan daerah dan pelayanan publik jadi agak terganggu, padahal para kepala daerah dituntut buat gercep belanja APBD biar nggak numpuk di kas daerah.
Duit Seret Tapi Wajib Gaji PPPK, Aturannya Bikin Dokter Resign!
Selain masalah duit yang seret, Rudy Ma’sud juga memanfaatkan momen rapat ini buat ngadu ke Menteri PAN-RB soal ruwetnya regulasi buat Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Masalah pertama yang disorot adalah nggak adanya aturan jelas soal peningkatan kompetensi atau studi lanjutan buat PPPK.
Gara-gara aturan kontrak yang kaku dan melarang PPPK buat ninggalin tugas, beberapa dokter spesialis berstatus PPPK di Kaltim malah milih buat mengundurkan diri (resign) demi bisa ngambil pendidikan dokter spesialis. Padahal, tenaga kesehatan (nakes) dan guru itu adalah sektor yang paling fundamental banget buat masyarakat.
Udah gitu, beban fiskal pemerintah daerah Kaltim makin terasa berat alias boncos. Di tengah kebijakan pusat yang memangkas dana TKD, pemda Kaltim ternyata diwajibkan buat menanggung mandiri seluruh gaji dan tunjangan PPPK tanpa bantuan modal tambahan. Ditambah lagi, belum ada regulasi mutasi internal yang bikin penataan staf di lapangan jadi kaku banget. Rudy pun meminta Komisi II DPR buat mempertimbangkan kembali alokasi dana transfer ini biar pelayanan wajib kayak pendidikan dan kesehatan di Kaltim nggak ambyar!
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: detik.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.