Belakangan ini, berita soal PHK massal di perusahaan raksasa kayak Block emang bikin ketar-ketir. Banyak yang langsung menuduh AI sebagai biang keroknya. Tapi, menurut analisis terbaru dari Gartner, kondisinya nggak seseram yang kalian bayangkan. Alih-alih bikin jutaan orang langsung menganggur, AI sebenarnya lagi mengubah lanskap dunia kerja secara masif, dengan prediksi sekitar 32 juta pekerjaan bakal bertransformasi setiap tahunnya. Menariknya, Gartner justru memproyeksikan kalau AI bakal menciptakan lebih banyak lapangan kerja baru mulai tahun 2028 atau 2029 nanti. Jadi, ini bukan soal kiamat lapangan kerja, melainkan babak baru buat kita semua untuk beradaptasi.
Posisi Yang Terancam AI
Nate Suda dari tim strategi AI Gartner menyebutkan kalau posisi IT yang paling berisiko adalah yang fokusnya ke alur kerja rutin (workflow heavy). Pekerjaan yang output-nya cuma tiket, dokumentasi, atau template status—kayak service desk, business analyst, dan project manager—bakal makin otomatis. Akibatnya, jumlah karyawan di sektor ini bakal menyusut. Manusia nggak lagi sibuk mengurusi hal-hal administratif yang membosankan, tapi bakal digeser buat memegang kendali yang lebih penting, seperti kurasi pengetahuan, penanganan masalah khusus, desain alur kerja, dan kolaborasi lintas divisi.
Fenomena yang terjadi sekarang sebenarnya bukan PHK massal akibat AI, melainkan fenomena “penahanan rekrutmen” alias hiring avoidance dan konsolidasi peran. Berdasarkan survei dari Resume.org terhadap seribu pemimpin bisnis di AS, sekitar 21% perusahaan sudah menyetop perekrutan karyawan entry-level gara-gara AI. Bahkan, setengah dari mereka berencana menyetop total rekrutmen anak baru pada tahun 2027. Kasus PHK yang terjadi di raksasa teknologi seperti Oracle pun sebenarnya terjadi bukan karena efisiensi AI, melainkan karena perusahaan sengaja memangkas unit bisnis lama demi modal buat ekspansi pusat data AI.
Transformasi Sekarang Juga!
Buat kalian yang masih junior di dunia IT, jangan langsung ciut. Suda menyarankan agar kalian justru memanfaatkan AI buat ngebut level up kemampuan diri. Di sisi lain, para profesional senior bakal melihat cakupan kerja mereka makin meluas. Senior software engineer, misalnya, sekarang bisa merambah ke area product management atau business analysis dibantu AI. Intinya, AI itu nggak menghilangkan pekerjaan kita secara total, melainkan menghilangkan hambatan-hambatan teknis yang bikin ribet.
Menghadapi disrupsi ini, Chris Willis dari Domo mengingatkan para pemimpin perusahaan untuk tidak asal pangkas karyawan. Respons terbaik dari perubahan teknologi besar-besaran adalah mendesain ulang kapabilitas tim, bukan langsung memecat orang. Kita tetap butuh manusia buat mengawasi, mengatur tata kelola, dan mengarahkan sistem AI ini agar tetap aman dan berjalan sesuai logika bisnis. Yuk, mending kita mulai asah skill baru biar nggak ketinggalan kereta!
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: cio.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.