Lagi ramai banget nih di media sosial soal drama Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Kejadiannya pas babak final di Pontianak, dan beritanya makin memanas sampai Senin (11/5) ini karena netizen pada geram liat cuplikan videonya.
@jawaposofficial Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang digelar pada Sabtu, 9 Mei 2026 menjadi sorotan publik usai penilaian juri dinilai tidak konsisten. Kontroversi bermula ketika regu C dari SMAN 1 Pontianak menjawab bahwa pemilihan anggota BPK oleh DPR dilakukan dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh Presiden. Jawaban tersebut dinyatakan salah oleh juri. Namun, saat pertanyaan yang sama diberikan kepada regu lain dari SMAN 1 Sambas dengan substansi jawaban serupa, justru dinilai benar. Keputusan tersebut langsung diprotes oleh peserta, namun tidak diakomodasi karena dinyatakan final oleh dewan juri. Pembawa acara dalam siaran tersebut juga terlihat membela keputusan juri dengan menyebut "mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja", yang kemudian semakin memicu perdebatan di kalangan penonton. Source: MPRGOID Kreator: sabrina
♬ original sound – Jawa Pos Official
Intinya, Setjen MPR RI akhirnya buka suara dan janji bakal ngelakuin evaluasi total gara-gara insiden salah penilaian yang dianggap nggak adil buat peserta.
Kronologi Drama “DPD” yang Bikin Netizen Emosi
Kalau kalian liat videonya , suasananya tuh tegang banget. Ada tiga sekolah yang lagi tanding: SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau. Masalah dimulai pas sesi pertanyaan rebutan: “DPR dalam memilih anggota BPK wajib memperhatikan pertimbangan lembaga mana?”
Kejadian ini bermula saat Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan dengan sangat lengkap, termasuk menyebutkan bahwa DPR harus mendapatkan pertimbangan dari DPD, namun secara mengejutkan juri justru menyalahkan jawaban tersebut hingga mereka terkena penalti minus 5 poin. Keadaan semakin membingungkan ketika pertanyaan yang sama dilempar ke Regu B (SMAN 1 Sambas) yang memberikan jawaban persis seperti Regu C, tetapi juri justru mengesahkannya sebagai jawaban benar dan memberikan 10 poin. Merasa ada ketidakadilan, siswi dari Regu C langsung melayangkan protes sopan dengan menekankan bahwa jawaban mereka identik dengan Regu B, namun pihak juri tetap bersikap keras kepala dan berdalih bahwa Regu C sebelumnya tidak menyebutkan kata “DPD” meskipun fakta di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya.
Juri: “Artikulasi Itu Penting”
Yang bikin netizen makin gemas adalah pembelaan dari dewan juri. Salah satu juri, Indri Wahyuni, malah bilang kalau artikulasi (kejelasan ngomong) itu penting. Intinya, kalau juri nggak denger dengan jelas, ya juri berhak kasih nilai minus. Waduh, padahal di rekaman video kedengeran jelas banget lho kalau Regu C nyebut “DPD”.
“JURI DAN MC HARUS MEMINTA MAAF DAN MEMBERI PERTANGGUNGJAWABAN,” kata akun Queen111
“jurinya ngantuk 🤭,” kata akun iwan
Karena udah terlanjur viral dan dapet kritik pedas dari masyarakat, Setjen MPR RI akhirnya minta maaf dan lagi ngelakuin penelusuran internal. Mereka sadar kalau lomba pendidikan kayak gini harusnya menjunjung tinggi sportivitas dan keadilan.
Sekarang, MPR janji bakal benerin sistem penilaian, mekanisme keberatan, sampai urusan verifikasi jawaban biar kejadian memalukan kayak di Kalbar ini nggak keulang lagi. Pelajaran nih buat kita semua: kalau ngerasa bener, jangan takut buat bersuara! Stay fair, Gengs!