Siapa sih yang gak kenal sama Butet Kartaredjasa? Budayawan senior super nyentrik asal Yogyakarta ini baru aja bikin gebrakan baru di kancah internasional. Gak tanggung-tanggung, Butet berkesempatan buat bertemu langsung dengan Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Sedunia, Paus Leo XIV. Pertemuan yang penuh kehangatan dan rasa haru ini berlangsung di tempat yang sangat sakral, yaitu Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada hari Rabu, (17/6).
Dalam momen langka tersebut, Butet gak datang dengan tangan kosong. Dia membawa sebuah mahakarya seni yang bener-bener sarat akan budaya Nusantara untuk dihadiahkan langsung kepada sang Paus. Hadiah ini langsung mencuri perhatian dunia karena keunikan dan kedalaman makna yang terkandung di dalamnya.
Ketika Kisah Sengsara Yesus Divisualisasikan Lewat Tokoh Punakawan Jawa
Karya seni yang diserahkan Butet adalah satu set lukisan kaca istimewa yang berisi 14 frame bertema “Jalan Salib” versi Jawa. Proyek seni luar biasa ini ternyata udah digarap dengan penuh ketekunan oleh Butet sejak tahun 2024 lalu. Yang bikin geleng-geleng kepala saking kreatifnya, kisah sengsara Yesus Kristus dalam tradisi Kristiani digambarkan Butet lewat tokoh-tokoh wayang Punakawan yang legendaris.
Dalam lukisan kaca tersebut, sosok Yesus divisualisasikan sebagai Semar. Sementara itu, tiga tokoh Punakawan lainnya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong, tampil setia mengerumuni-Nya. Frame yang diserahkan langsung oleh Butet ke tangan Paus Leo XIV hari Rabu kemarin adalah seri kesembilan, yang menampilkan adegan pilu saat Yesus jatuh tertimpa salib berkelir merah. Usut punya usut, ternyata 13 frame lainnya sudah dikirimkan lebih dulu ke Vatikan via paket khusus sebelum pertemuan epik itu terjadi.
Filosofi Ojo Dumeh: Pesan Kemanusiaan yang Menembus Batas Agama
Pemilihan karakter Semar buat menggambarkan sosok Yesus tentu bukan tanpa alasan yang matang. Dalam dunia pewayangan Jawa, tokoh Semar adalah lambang dari kerendahan hati yang hakiki dan kebijaksanaan yang mendalam. Melalui karya ini, Butet pengin menyampaikan filosofi hidup masyarakat Jawa yang sangat kuat, yaitu ojo dumeh, yang artinya “jangan mentang-mentang punya kuasa lalu bertindak sewenang-wenang”.
Gebrakan budaya yang dibawa Butet ke Vatikan ini membuktikan kalau pesan-pesan universal tentang kemanusiaan, cinta kasih, dan perdamaian bisa disampaikan lewat media apa saja, bahkan melintasi batas-batas sekat agama. Paus Leo XIV pun dikabarkan sangat mengapresiasi karya seni yang kental dengan akulturasi budaya lokal Indonesia ini.