Sebuah kabar pilu dan mengejutkan datang dari dunia pendidikan keagamaan di Kecamatan Sempu, Banyuwangi. Seorang oknum kiai yang merupakan pengasuh pondok pesantren diduga tega melakukan aksi pencabulan terhadap sejumlah santriwatinya. Kasus ini mencuat ke publik setelah organisasi Yakuza Maneges turun tangan mendampingi para korban untuk mencari keadilan. Fakta-fakta mengejutkan terkait cara pelaku melancarkan aksinya pun mulai dibongkar oleh pihak pendamping.
Ketua sekaligus pendiri Yakuza Maneges, Thuba Topo Broto Maneges, atau yang akrab disapa Gus Thuba, membeberkan trik licik sang oknum dalam memberikan keterangan resmi pada hari Kamis, (2/7). Menurut penuturan Gus Thuba, yang juga merupakan cucu ulama kharismatik KH Hamim Djazuli (Gus Miek), pelaku memanfaatkan relasi kuasanya yang besar di pondok. Modus utamanya adalah dengan meminta korban memijat dirinya pada malam hari di sebuah kamar khusus yang terletak di lantai dua pondok pesantren.
Korban Masih di Bawah Umur dan Dipaksa Melayani Setiap Malam
Sebelum dipanggil pada malam hari sekitar jam 22.00 WIB atau 23.00 WIB, santriwati yang menjadi target biasanya disuruh untuk membersihkan kamar pelaku terlebih dahulu pada sore hari. Di saat itulah pelaku memberikan instruksi lisan agar korban kembali datang pada malam hari dengan alasan badannya sedang kurang sehat. Gus Thuba sendiri mengaku sempat mempertanyakan mengapa pelaku tidak meminta santri laki-laki saja untuk memijatnya, mengingat pondok tersebut memiliki santri putra. Namun, pertanyaan itu hanya dibalas dengan senyuman oleh terduga pelaku.
Berdasarkan hasil investigasi, aksi bejat ini ternyata tidak hanya terjadi di lingkungan pesantren. Salah satu korban diduga pernah dicabuli di sebuah hotel di wilayah Kecamatan Glenmore. Dari korban-korban yang didampingi, rata-rata mengalami pelecehan lebih dari satu kali. Bahkan, ada satu korban yang dipaksa melayani nafsu bejat pelaku hampir setiap malam selama tiga bulan berturut-turut. Ironisnya, saat peristiwa terjadi, para korban masih berusia anak-anak, bahkan ada yang baru menginjak usia 14 tahun.
Melihat kondisi psikologis korban yang sangat terpukul, Gus Thuba meminta aparat penegak hukum bertindak tegas dan profesional. Ia sudah berpesan langsung kepada Kapolresta Banyuwangi agar kasus ini diusut tuntas tanpa ada permainan di belakang layar, serta menuntut hukuman seberat-beratnya bagi pelaku tanpa ada jalur damai atau restorative justice. Hingga kini, kasus tersebut masih ditangani intensif oleh Polresta Banyuwangi, sementara pihak pesantren belum memberikan pernyataan resmi.
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: detik.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.