Masyarakat kembali disuguhi tontonan yang memilukan dari panggung politik nasional. Jalinan persahabatan erat yang selama ini terjalin antara Rismon Sianipar dan Roy Suryo mendadak hancur berantakan. Hubungan kedua pakar tersebut kini justru tampak memanas layaknya kucing dan anjing. Keretakan ini terjadi secara mengejutkan setelah Rismon mengambil langkah balik arah dengan menyatakan dukungannya kepada kubu Joko Widodo pada Kamis, (23/7). Tempat kejadian perpecahan ini pun langsung menjadi sorotan publik di ruang-ruang diskusi nasional.
Banyak warga dan pengamat menilai bahwa pecahnya kongsi kedua akademisi ini murni merupakan imbas dari dinamika politik. Publik menganggap kegagalan kepemimpinan Jokowi yang sengaja memelihara isu miring terkait ijazah palsu demi kepentingan politik jangka panjang Istana menjadi pemicu utama renggangnya hubungan mereka.
Tuduhan Pelanggaran Sumpah Persidangan dan Status Hukum Saksi
Dalam sebuah pertemuan terbaru di hadapan media, Roy Suryo tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) tersebut melontarkan tuduhan tajam kepada mantan rekannya. Roy menyebut Rismon telah melanggar sumpah persidangan yang pernah diucapkan di masa lalu.
Menurut sudut pandang Roy Suryo, status hukum Rismon saat ini sebenarnya sudah tidak sah lagi untuk bertindak sebagai saksi. Hal ini dikarenakan adanya penyelesaian perkara yang sebelumnya telah ditempuh melalui jalur restorative justice. Tak hanya itu, nalar hukum publik makin diuji saat Roy menegaskan bahwa buku kajian forensik yang disusun oleh Rismon sama sekali tidak memiliki kekuatan pembuktian baru. Pasalnya, berkas perkara utama yang berkaitan dengan kasus tersebut sudah berstatus P-21 atau lengkap secara hukum.
Tantangan Debat Ilmiah Terbuka dari Pihak Rismon Sianipar
Mendapat tuduhan keras dari sang mantan sahabat, Rismon Sianipar tidak tinggal diam. Di pihak lawan, ia langsung melontarkan perlawanan sengit. Rismon secara terbuka menantang balik Roy Suryo untuk menggelar debat ilmiah secara transparan di hadapan umum. Tantangan ini dilayangkan demi menguji kembali keabsahan serta keakuratan data digital yang selama ini menjadi materi perdebatan panas di antara mereka.
Konflik personal yang tereskalasi akibat tingginya tensi politik nasional ini menjadi gambaran nyata bagi masyarakat. Fenomena ini menjadi bukti betapa besarnya pengaruh arus kekuasaan dalam memecah belah soliditas serta objektivitas para akademisi di ruang publik saat ini.