Siapa sangka kalau kaleng timah sederhana yang biasa kita lihat di rak supermarket ternyata jadi ujian terberat buat kebijakan tarif Presiden Trump? Jadi gini ceritanya, sekitar setahun lalu, Trump resmi ngetok palu buat naikin tarif impor baja setinggi langit. Tujuannya mulia sih, biar impor ditekan dan pabrik baja lokal makin jaya. Tapi tebak apa yang terjadi di tahun 2025? Impor baja khusus buat bikin kaleng—atau yang biasa disebut tin plate—malah melonjak drastis!
Pabrik Kaleng Terpaksa Impor
Para bos pabrik kaleng di Amerika Serikat (AS) langsung pusing tujuh keliling. Scott Breen, Presiden Can Manufacturers Institute, blak-blakan bilang kalau mereka bakal terus ketergantungan sama pasokan impor luar negeri buat waktu yang lama. Masalahnya, gara-gara ada tarif baru ini, bahan baku impor otomatis jadi jauh lebih mahal. “Kita terpaksa impor tin plate ini karena produksinya di dalam negeri nggak nambah sama sekali dibanding dulu,” curhat Scott.
Beda sama tarif Trump lainnya yang sempat dibatalkan oleh pengadilan, tarif baja yang ini punya posisi hukum yang kuat banget karena pakai tameng Pasal 232 UU Ekspansi Perdagangan dengan alasan “keamanan nasional”. Angka tarifnya pun nggak main-main, nyentuh 50 persen! Jauh lebih tinggi dibanding pajak impor barang lainnya.
Efek dominonya langsung berasa ke dompet masyarakat. Asal tahu aja, biaya untuk wadah kaleng itu sendiri ngabisin sepertiga dari harga grosir makanan kaleng kayak buah atau sayur. Begitu tarif bikin harga tin plate meroket, harga makanan kaleng di pasar ikut-ikutan naik. Data pemerintah mencatat, pada Maret lalu, harga buah dan sayur kalengan melonjak 5,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Padahal, kenaikan harga makanan rumahan lainnya cuma di angka 2 persen. Imbasnya, keluarga-keluarga yang harian rely on makanan instan kayak jagung dan kacang kalengan jadi makin menjerit karena pengeluaran membengkak.
Kementerian Perdagangan Klaim Kebijakan Trump Berhasil
Menurut lembaga analisis pasar logam Harbor Intelligence, lebih dari 80 persen tin plate yang dipakai di AS tahun lalu itu hasil impor. Kenapa pabrik lokal nggak bikin sendiri? Ya karena volume produksi tin plate ini kecil banget kalau dibandingin sama baja buat bikin mobil atau gedung bertingkat. Makanya, raksasa baja lokal kurang selera main di ceruk ini.
Meskipun begitu, U.S. Steel sebagai produsen tin plate terbesar di AS akhirnya mengumumkan rencana buat ngegas produksi lagi tahun depan di pabrik mereka yang ada di Gary, Indiana. Pihak Kementerian Perdagangan AS langsung pasang badan dan ngeklaim kalau ini bukti kebijakan Trump berhasil memperbaiki iklim bisnis, setelah sebelumnya banyak pabrik tin plate bertumbangan di era Presiden Biden.
Tapi para analis menilai langkah U.S. Steel ini tetap belum cukup. Bahkan dengan tambahan pasokan dari pabrik Gary, produsen kaleng AS diprediksi bakal tetap mengimpor lebih dari dua pertiga kebutuhan baja mereka dalam beberapa tahun ke depan.
Baja Kemasan di AS Capai Titik Terendah
Dilema ini juga dirasain banget sama Dave Luptak, CEO Ohio Coatings. Pabriknya di Yorkville, Ohio, bertugas menyepuh baja super tipis dengan timah lewat proses kimia-elektrik. Di satu sisi, Dave setuju sama tarif Trump karena bisa melindungi industri lokal dari gempuran barang murah bersubsidi asal China. Tapi di sisi lain, tiga perempat bahan baku bajunya (blackplate) ternyata masih harus impor dan kena tarif!
Dave curhat kalau profit margin perusahaannya sekarang lagi megap-megap. Biar nggak boncos, Ohio Coatings terpaksa naikin harga jual ke konsumen sekitar “satu digit” persen tahun lalu, sambil negosiasi sama supplier luar negeri biar mau potong harga. Dave pun sempat minta ke pemerintah buat ngasih kelonggaran tarif sementara waktu, biar industri lokal punya napas buat bangun jalur produksi baru.
Kondisi industri baja kemasan AS emang lagi di titik nadir. Kalau sepuluh tahun lalu produsen lokal bisa penuhin 60 persen kebutuhan domestik, tahun lalu angkanya merosot tajam jadi di bawah 20 persen. Sekarang, praktis cuma tersisa Ohio Coatings dan U.S. Steel yang bertahan.
Lucunya lagi, kebijakan tarif ini punya loophole alias celah hukum yang bikin produsen kaleng lokal makin apes. Kaleng kosong yang diimpor emang kena tarif baja, tapi kalau kaleng itu diimpor dalam keadaan udah diisi makanan dari luar negeri, mereka malah bebas tarif! Otomatis makanan kaleng impor jadi jauh lebih murah dan membanjiri rak-rak toko. Scott Lincicome dari Cato Institute menilai kalau maksa nerapin tarif ke makanan kaleng impor di saat daya beli masyarakat lagi sensitif itu namanya “gila”, karena kebijakan proteksionisme yang asal-asalan justru bikin produk buatan Amerika kalah saing di pasar global.
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: nytimes.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.