Suasana di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, mendadak heboh pada Kamis, (3/9). Sebanyak 152 siswa dari dua sekolah menengah pertama mendadak jatuh sakit secara bersamaan. Para pelajar ini diduga kuat mengalami keracunan makanan setelah menyantap hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah mereka.
Gejala yang dialami para siswa terbilang cukup parah dan serentak. Tidak lama setelah menyantap makanan yang disediakan, mereka mulai mengeluhkan mual, muntah-muntah, pusing atau sakit kepala hebat, hingga nyeri perut yang luar biasa. Korban terbanyak berasal dari SMP Negeri 1 Tana Toraja dengan jumlah 127 siswa, sementara 25 siswa sisanya merupakan pelajar dari SMP Negeri 2 Tana Toraja.
Penanganan Medis dan Tanggapan Pemerintah Daerah
Melihat kondisi murid yang makin memprihatinkan, pihak sekolah dan petugas segera bergerak cepat membawa para korban ke fasilitas kesehatan terdekat. Saat ini, ratusan siswa tersebut sedang menjalani perawatan intensif yang tersebar di tiga rumah sakit di Tana Toraja, yakni Rumah Sakit Lakipadada, Rumah Sakit Sinar Kasih, serta Rumah Sakit Fatima Makale. Petugas medis di ketiga rumah sakit tersebut masih terus bersiap dan sibuk mendata serta memeriksa siswa yang mengeluhkan gejala serupa.
Kejadian ini langsung mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah setempat. Bupati Tana Toraja sekaligus Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) MBG Tana Toraja, Zadrak Tombeg, memastikan bahwa seluruh fasilitas kesehatan di wilayahnya disiagakan penuh untuk menangani para korban. Zadrak menegaskan bahwa dirinya sudah menginstruksikan jajaran pimpinan rumah sakit agar memberikan penanganan medis yang paling cepat dan maksimal demi keselamatan para siswa.
Meski dugaan awal mengarah pada menu makanan dari program MBG, Zadrak menyampaikan bahwa pihak pemerintah daerah dan instansi terkait tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan akhir. Pemerintah masih harus menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan dan uji laboratorium secara medis untuk memastikan penyebab utama dari musibah ini. Sampai saat ini, proses penyelidikan resmi masih terus berjalan untuk mengusut tuntas pemicu utama di balik insiden keracunan massal tersebut.