Home BeritaDugaan Pungutan Liar PIP di SDN Sumatera Selatan

Dugaan Pungutan Liar PIP di SDN Sumatera Selatan

by CeritaBerita

Kasus dugaan pungutan liar (pungli) kembali mencoreng dunia pendidikan daerah. Kali ini, dugaan penyelewengan dana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) ditemukan di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) di wilayah Sumatera Selatan. Program yang seharusnya diperuntukkan bagi siswa dari keluarga kurang mampu demi meringankan biaya sekolah tersebut justru diduga dipotong oleh oknum pihak sekolah.

Berdasarkan hasil temuan dan wawancara yang dilakukan oleh anggota pers, Herian, SE., MM., terkuak bahwa setiap siswa penerima bantuan PIP diminta untuk menyerahkan uang sebesar Rp50.000 setelah dana bantuan tersebut cair.

Praktik ini tentu sangat memberatkan para orang tua murid. Dana bantuan yang semestinya digunakan untuk membeli perlengkapan sekolah seperti baju, sepatu, atau buku, malah harus dipotong untuk alasan yang tidak jelas.

Ancaman Coret Nama Siswa dan Pembelaan Pihak Sekolah

Temuan ini makin memprihatinkan setelah muncul dugaan adanya tindakan intimidasi kepada para siswa. Menurut keterangan yang dihimpun Herian dari beberapa orang tua murid, siswa yang tidak menyetorkan uang Rp50.000 tersebut diancam akan dicoret dari daftar usulan penerima bantuan PIP untuk periode berikutnya. Rasa takut nama anaknya dieliminasi membuat sejumlah orang tua terpaksa menuruti permintaan tersebut meskipun terasa berat.

Namun, tuduhan tersebut langsung mendapat bantahan keras dari pihak sekolah. Saat dikonfirmasi pada hari yang sama, Wakil Kepala Sekolah (Wakepsek) SDN tersebut secara tegas membantah adanya pemotongan dana maupun ancaman pencoretan nama siswa. Menurut keterangannya, pihak sekolah sama sekali tidak pernah mewajibkan atau menekan siswa untuk menyerahkan uang.

Wakepsek mengklaim bahwa uang sebesar Rp50.000 yang terkumpul dari beberapa siswa tersebut murni merupakan bentuk sedekah pribadi atau keikhlasan dari para wali murid yang merasa terbantu setelah dana PIP cair. Pihak sekolah menegaskan tidak ada unsur paksaan, dan uang tersebut tidak berkaitan dengan keberlanjutan pencairan bantuan di masa mendatang.

Meski pihak sekolah sudah memberikan klarifikasi dan membantah tuduhan tersebut, temuan wartawan Herian ini memicu sorotan publik. Banyak pihak berharap dinas pendidikan setempat serta aparat pengawas segera turun tangan untuk melakukan investigasi mendalam. Langkah ini penting untuk memastikan apakah pengumpulan uang tersebut benar-benar sukarela atau justru bentuk pungli yang berkedok sedekah di lingkungan sekolah.

Anda mungkin suka

Tinggalkan Komentar