Aktris cantik Marshanda baru aja comeback lewat film terbarunya yang super emosional berjudul Saat Aku Bersuara. Diproduksi barengan sama Arjuna Mega Films, Lex Pictures, dan Rain Creation, film ini menempatkan Marshanda sebagai karakter utama bernama Nadia.
Nadia sendiri diceritain sebagai seorang pengacara yang apes banget karena jadi korban pemerkosaan oleh dua pria bertopeng. Gak mau tinggal diam, Nadia akhirnya berani bersuara lewat blog pribadinya sampai viral di media sosial. Bareng sahabatnya, Andien (Rini Yulianti), dan seorang jaksa bernama Adrian (Ibnu Jamil), Nadia juga ikut berjuang nyari keadilan buat korban kekerasan seksual lainnya, yaitu DJ Aura (Georgina Andrea).
Akting Pakai Hati, Marshanda Sampai Belajar dari Korban Asli
Bagi Marshanda, peran Nadia ini bener-bener gak main-main dan bukan sekadar akting biasa. Biar dapet banget emosinya, bintang sinetron legendaris Bidadari ini sampai melibatkan pengalaman emosional pribadinya. Dia mengaku harus ngerasain lagi campuran rasa amarah, trauma, kesedihan, sampai secercah harapan yang menurutnya paling susah buat dihidupin.
Pas ngobrol di Jakarta, awal pekan ini, Marshanda cerita kalau dia dapet banyak input dan info berharga dari proses belajar sana-sini, termasuk nanya langsung ke orang-orang yang pernah ngalamin kejadian serupa di dunia nyata. Pas proses reading, cewek yang akrab disapa Chacha ini juga banyak diskusi sama sutradara Sonu Samtani dan aktor Rifnu Wikana. Meskipun sempat disaranin nonton film luar negeri dengan tema mirip buat referensi, Marshanda sengaja milih-milih karena gamau karakter Nadianya jadi plagiat atau mirip sama karakter yang udah ada.
Lebih dari Sekadar Film, Ini Sih Gerakan Nyata #NoMoreSilence!
Di balik layarnya, film ini mengusung tagar #NoMoreSilence yang jadi tamparan keras sekaligus cerminan nyata buat ribuan perempuan Indonesia yang selama ini terjebak dalam budaya bungkam gara-gara takut dituduh aib. Penulis naskah kondang, Tisa TS, menegaskan kalau film ini bukan cuma sekadar hiburan komersial biasa, melainkan sebuah ajakan dan gerakan biar para korban berani speak up.
Menariknya lagi, film berdurasi 85 menit ini ternyata butuh perjuangan yang berdarah-darah banget buat diproduksi. Bayangin aja, naskahnya sampai ditulis dan direvisi sebanyak 18 kali! Proses syutingnya pun memakan waktu selama empat tahun karena sempat mandek gara-gara pandemi Covid-19. Tapi untungnya, gak ada satu pun adegan yang dikorbankan demi menjaga keutuhan cerita. Buat kalian yang penasaran sama ketegangan hukum dan drama emosional ini, Saat Aku Bersuara udah resmi tayang di bioskop kesayangan kalian mulai Kamis, (18/06). Jangan lupa nonton dan dukung film local.
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: liputan6.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.