Home BeritaKarhutla Kalimantan: Tanjung Puting Terbakar, Relawan Mengeluh

Karhutla Kalimantan: Tanjung Puting Terbakar, Relawan Mengeluh

by CeritaBerita

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membara di wilayah Kalimantan Tengah dan sekitarnya. Asap tebal tak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga melumpuhkan aktivitas harian serta membahayakan jarak pandang para pengguna jalan. Salah satu lokasi terdampak paling parah berada di kawasan Taman Nasional (TN) Tanjung Puting, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Kondisi berat di lapangan memicu mundurnya sejumlah relawan dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) di Kotawaringin Barat. Para relawan merasa upaya pemadaman karhutla yang mereka lakukan tidak mendapatkan dukungan secara maksimal.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) merespons keputusan mundur para relawan tersebut dengan menyampaikan pemahaman atas beratnya kondisi medan. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, menjelaskan bahwa luasnya wilayah, sulitnya akses, serta karakteristik lahan menjadi tantangan utama. Operasi water bombing udara sebenarnya telah diajukan sejak September 2026, namun tebalnya kabut asap sering kali menghambat jarak pandang penerbangan helikopter demi alasan keselamatan.

Atensi Presiden Prabowo dan Bantuan Darurat

Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian serius terhadap penanganan karhutla di TN Tanjung Puting. Dalam rapat penanganan karhutla secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta, Presiden menegaskan bahwa kawasan TN Tanjung Puting harus dijaga secara ketat karena statusnya sebagai taman nasional yang sangat berharga.

Berdasarkan laporan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, total luas karhutla yang masih ditangani di enam provinsi prioritas mencapai 639,23 hektare. Angka terbesar disumbang oleh Kalteng, di mana titik kebakaran baru di TN Tanjung Puting (wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan) mencakup area seluas 513,89 hektare.

Guna memperkuat penanganan darurat di lapangan, Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin melaporkan bahwa lokasi kebakaran tersebar di kawasan rawa yang sulit diakses kendaraan. Menanggapi kebutuhan alat pemadam, Presiden Prabowo langsung memutuskan memberikan bantuan 200 unit pompa air—jauh melampaui usulan awal sebanyak 50 unit. Selain itu, Presiden mengucurkan dana Rp 2 miliar untuk pembuatan 200 titik sumur bor guna mengoptimalkan sumber air di kawasan rawa.

Tak hanya bantuan jangka pendek, Presiden Prabowo juga mendorong penguatan kapasitas perlindungan hutan jangka panjang. Ia meminta penambahan personel polisi hutan hingga 70 ribu orang serta menginstruksikan Polri untuk membantu pelatihan teknis mereka.

Sementara itu, dampak kabut asap pekat juga dirasakan warga di luar kawasan hutan. Di Jalan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kabut asap tebal membatasi jarak pandang hingga pengendara terpaksa melaju perlahan dengan menyalakan lampu utama. Meski mengenakan helm dan masker, mata perih serta sesak napas tetap tak terhindarkan. Para orang tua murid pun menyuarakan kekhawatiran atas keselamatan anak-anak mereka yang masih harus bersekolah secara tatap muka di tengah kepungan asap.

Anda mungkin suka

Tinggalkan Komentar