Setelah hampir lima bulan dilanda kemarau panjang, sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan akhirnya diguyur hujan deras yang disertai angin kencang pada Minggu (25/10/2026). Kegembiraan tak terbendung menyelimuti masyarakat yang telah lama mendambakan datangnya guyuran air hujan.
Di Kabupaten Banjar, warga menyambut turunnya hujan dengan penuh sukacita hingga melakukan sujud syukur. Hal tersebut dirasakan sangat emosional karena selama hampir lima bulan terakhir, wilayah tempat tinggal mereka kerap diselimuti kabut asap pekat akibat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Salah seorang warga Kabupaten Banjar, Ronny Latar, mengungkapkan rasa syukurnya atas turunnya hujan deras tersebut. Menurut penjelasannya, kedatangan hujan sangat membantu mengurangi kepekatan kabut asap yang selama ini melumpuhkan aktivitas harian serta mengancam kesehatan masyarakat sekitar.
“Hujannya lumayan lama, ada kali sekitar 16 menit, tapi sangat deras. Tentunya kita sangat bersyukur karena setelah hampir 5 bulan kita di sini kemarau kering,” ujar Ronny Latar.
Harapan Berakhirnya Kabut Asap dan Krisis Air
Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut pada Minggu sore diharapkan menjadi sinyal positif berakhirnya ancaman kabut asap akibat karhutla yang meresahkan warga. Kehadiran hujan ini membawa angin segar bagi kualitas udara yang sebelumnya tercemar asap pembakaran lahan.
Selain mengikis kabut asap, warga setempat menggantungkan harapan besar agar intensitas hujan dapat memulihkan pasokan air dan mengatasi dampak kekeringan. Kemarau panjang telah membuat sumur-sumur galian warga mengering total hingga memicu krisis air bersih.
“Kita juga berharap sumur-sumur warga kembali berisi air, karena kita di sini selain kabut, kekeringan juga yang menyebabkan krisis air bersih,” ungkap Ronny lebih lanjut.
Kabupaten Banjar sendiri tercatat sebagai salah satu kawasan di Kalimantan Selatan yang mengalami dampak terparah akibat bencana karhutla. Dalam beberapa bulan terakhir, warga tidak hanya harus bertahan di tengah kepungan kabut asap yang menyelimuti permukiman, tetapi juga berjuang memenuhi kebutuhan pokok harian di tengah krisis air bersih akibat kekeringan ekstrem.
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: kumparan.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.