Mantan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, akhirnya muncul secara langsung dalam persidangan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda, pada Rabu (16/9). Kehadiran pria berusia 81 tahun ini menjadi penampilan resminya yang pertama sejak ia ditangkap di Manila pada Maret 2025 lalu.
Duterte hadir dengan mengenakan setelan jas gelap dan kemeja putih untuk menghadiri sidang status terkait kasus dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan. Selama jalannya persidangan, ia memilih tidak menyampaikan pernyataan apa pun, namun sempat melambaikan tangan kepada pihak keluarga di galeri pengunjung saat sidang usai.
Dugaan Kejahatan Kemanusiaan dan Pembelaan Kesehatan
Kasus hukum ini berpusat pada kebijakan perang melawan narkoba yang dilancarkan Duterte selama masa kepemimpinannya. Kebijakan keras tersebut dituduh memicu eksekusi tanpa proses hukum (extrajudicial killing) yang menewaskan puluhan ribu pengedar dan pengguna narkoba skala kecil, terhitung sejak ia menjabat Wali Kota Davao pada 2011 hingga Filipina keluar dari ICC pada 2019.
Dalam persidangan tersebut, tim pengacara Duterte berargumen bahwa klien mereka mengalami gangguan daya ingat signifikan dan masalah kesehatan emosional sehingga tidak layak diadili. Kendati demikian, jaksa penuntut membantah klaim tersebut, dan majelis hakim kini tengah menanti hasil pemeriksaan medis dari tiga dokter spesialis independen sebelum sidang perdana dimulai pada 30 November mendatang.
Reaksi Keluarga Korban dan Ketegangan Politik Filipina
Sesi persidangan ini turut disaksikan secara langsung melalui siaran streaming oleh keluarga korban pembunuhan massal di Manila. Sejumlah kerabat korban mengaku lega melihat kondisi fisik Duterte yang dinilai masih cukup sehat, dan berharap proses peradilan internasional ini dapat berjalan lebih cepat untuk memberikan keadilan bagi para korban.
Di luar ruang sidang, kasus ini juga mempertegas konflik politik yang makin memanas di Filipina. Penangkapan Duterte di Bandara Manila pada Maret 2025 tidak lepas dari pecahnya aliansi politik antara keluarga Duterte dan Presiden Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr. Putrinya, Wakil Presiden Sara Duterte, kini bahkan menghadapi ancaman pemakzulan di tengah persaingan menuju Pilpres 2028.
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: detik.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.