Home Lagi ViralAksi Demo MBG Monas: Dibayar Dengan Wajan dan Duit

Aksi Demo MBG Monas: Dibayar Dengan Wajan dan Duit

by CeritaBerita

Lagi rame banget nih di media sosial soal aksi pawai dukungan buat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaksanakan pada Minggu, (21/6) kemarin di Batam. Bukannya dapet respons positif, acara ini malah panen hujatan dari netizen dan pengamat pendidikan. Gimana nggak, ribuan anak SD dan SMP tiba-tiba dikerahkan ke jalanan kota Batam sambil pakai seragam sekolah lengkap di hari libur!

Anak-anak polos ini disuruh megang poster yang isinya permohonan biar program MBG nggak dihentikan. Ironisnya, pihak sekolah bilangnya cuma ngajakin acara “jalan santai”. Mereka sama sekali nggak tahu kalau kehadiran mereka di depan kantor DPRD Batam hari itu cuma dimanfaatin sebagai tameng politik.

Dari Batam ke Monas: Modus Pengerahan Massa Berkedok Dukungan Organik

Ternyata drama ini nggak berhenti di Batam aja, guys. Sehari setelahnya, tepatnya pada Senin, (22/6), fenomena yang mirip bergeser ke kawasan Monas, Jakarta. Kali ini giliran ratusan ibu rumah tangga berpakaian putih yang turun ke jalan dengan narasi membela program MBG. Tapi ada plot twist-nya nih; salah satu warga Pisangan Timur blak-blakan ngaku kalau mereka dikasih wajan baru, susu, roti, plus uang saku Rp100 ribu buat ikutan aksi tersebut.

Intimidasi Guru dan Eksploitasi Anak yang Bikin Geram

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan, emang sempat ngaku kalau dia yang mengoordinasikan sekitar 100 sekolah penerima manfaat MBG buat ikutan aksi. Alibinya sih karena dengerin keluhan orang tua murid. Tapi, para wali murid justru ngaku kecolongan dan nggak tahu kalau anak mereka bakal diseret ke ranah politik praktis.

Lebih parahnya lagi, muncul pengakuan anonim dari seorang guru yang bilang kalau mereka dapet tekanan psikologis. Katanya, kalau ada guru yang absen dari acara jalan santai itu, Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) mereka terancam dipotong!

Aksi eksploitasi anak ini langsung memicu kecaman keras. Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) serta Dewan Pendidikan Kota Batam kompak bilang kalau pelibatan siswa ini melanggar Pasal 15 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus, seorang aktivis kemanusiaan, juga menegaskan dengan keras kalau tubuh anak-anak nggak boleh dieksploitasi cuma demi memvalidasi kekuasaan atau program pemerintah.

Banyak pihak menilai, kalau program MBG ini emang direncanakan dengan matang dan tata kelolanya bersih, pemerintah nggak perlu sampai panik dan pakai cara-cara transaksional atau numbalin anak sekolah demi menggiring opini publik.

Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: kompas.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.

Anda mungkin suka

Tinggalkan Komentar