Bener-bener nyesek banget denger kabar dari Cimuning, Bekasi. Sudah sebulan berlalu dari tragedi ledakan hebat di SPBE Cimuning tanggal (01/04) lalu, tapi nasib warga terdampak malah makin digantung kayak jemuran. Sampai hari Sabtu (2/5), warga curhat kalau janji manis soal ganti rugi ternyata belum cair juga.
Padahal, dampaknya nggak main-main. Puluhan ruko dan kontrakan hangus jadi arang. Pak Senin, atau yang akrab dipanggil Bapak Ita, salah satu warga di sana, tumpah ruah kekecewaannya. Bayangin aja, ada 10 ruko milik saudaranya yang ludes kebakar gara-gara posisinya persis di depan PT Indogas Andalan Kita. Belum lagi kontrakan di samping rumahnya yang juga ikut jadi korban.
Tuntutan Rp7,6 Miliar dan Trauma Tangki Raksasa
Warga nggak minta yang aneh-aneh, mereka cuma mau hak mereka balik. Total ganti rugi yang dituntut mencapai Rp7,6 miliar. Duit segitu buat benerin bangunan yang hancur, biaya berobat warga yang luka bakar, sampai santunan buat keluarga korban yang meninggal dunia.
Bukan cuma soal duit, warga juga lagi dihantui trauma berat. Setiap liat tangki berkapasitas 50 ton yang masih nangkring di lokasi, ibu-ibu di sana langsung lemes dan ketakutan. Makanya, warga ngasih deadline tegas: dalam waktu satu minggu, tangki raksasa itu harus dievakuasi! Mereka juga minta dibuatkan posko tanggap darurat yang beneran niat dari pihak SPBE.
Janji yang Masih Nyangkut di Administrasi
Sebenernya, pihak Pertamina lewat Pak Susanto August Satria sempat bilang bakal tanggung jawab balikin rumah warga kayak semula. Bahkan, Camat Mustikajaya, Pak Maka Nachrowi, juga sudah verifikasi ada 41 Kepala Keluarga (KK) yang berhak dapet bantuan total sekitar Rp7 miliar. Tapi ya gitu, katanya datanya sudah valid tapi duitnya masih nyangkut di proses administratif internal perusahaan. Duh, kelamaan nunggu keburu makin sedih warganya!
Tragedi ini bener-bener ninggalin luka yang perih banget buat warga Bekasi. Sampai awal Mei ini, tercatat ada enam orang yang meninggal dunia akibat luka bakar serius, mulai dari petugas keamanan, pelajar, sampai satu keluarga yang habis nyawanya satu per satu. Nama-nama kayak almarhum Sapta, Aulia, dan Pak Kosasih jadi bukti betapa ngerinya ledakan bulan lalu itu.
Warga sekarang cuma bisa berharap pemerintah sama pihak Pertamina nggak cuma jago kasih janji di atas kertas doang. Tolong banget segera direalisasikan di lapangan, kasihan warga sudah kehilangan harta benda, eh sekarang harus kehilangan kesabaran juga gara-gara urusan administrasi yang ribet.
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: gobekasi.id tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.