Gedung DPR Senayan tiba-tiba makin panas nih, tapi kali ini bukan karena demo, melainkan gara-gara pertanyaan kritis dari mahasiswa! Jadi, pada Rabu, (13/05), Badan Legislatif (Baleg) DPR lagi asyik audiensi bareng temen-temen mahasiswa Kriminologi Universitas Indonesia (UI) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Sudah Dua Dekade Mangkrak, Andre PPATK Pertanyakan Keseriusan Dewan
Ada satu momen yang bikin suasana jadi agak “nyesek”. Seorang mahasiswa S3 Kriminologi UI bernama Andre—yang ternyata juga kerja di PPATK—langsung menodong pertanyaan soal nasib RUU Perampasan Aset. Andre bilang, RUU ini usianya sudah kayak “fosil” karena sudah satu dekade lebih, bahkan hampir dua dekade, tapi kok nggak kunjung disahkan jadi undang-undang? Savage banget kan, gaes!
Alasan Demokrasi dan Hak Asasi: DPR Khawatir Penyalahgunaan Kekuasaan
Nggak pakai lama, Anggota Baleg dari Fraksi PDI Perjuangan, Siti Aisyah, langsung pasang badan. Dia ngejelasin kalau masalahnya nggak sesimpel yang kita bayangin di media sosial. Menurut Siti, RUU ini lagi digodok di Komisi III dengan koordinasi bareng Baleg. Dia juga bilang kalau sebenarnya aturan soal perampasan aset itu sudah ada di undang-undang lain, kayak UU Narkoba atau pencucian uang. Masalahnya, aparat penegak hukum kita aja yang kurang maksimal eksekusinya di lapangan.
Nah, poin yang paling menarik, Siti Aisyah ngingetin soal bahaya abuse of power atau penyalahgunaan kekuasaan kalau RUU ini asal disahkan tanpa batasan yang jelas. “Jangan sampai karena cinta ditolak, terus dibilang ‘kok gaya dia beda ya, saya duga korupsi’, terus asetnya langsung dirampas,” candanya sambil ngasih perumpamaan. Dia negasin kalau harus ada tindak pidana asalnya dulu sebelum main sita, biar nggak nabrak hak asasi manusia dan nilai demokrasi kita.
Intinya sih, DPR nggak mau undang-undang ini nantinya malah jadi senjata buat nindas orang yang cuma “diduga” tanpa bukti kuat. Debatnya seru banget ya, gaes! Antara mahasiswa yang pengen koruptor cepat dimiskinkan, sama anggota dewan yang (katanya) lagi mikirin celah hukumnya biar nggak jadi alat kekuasaan.
Gimana menurut kalian? Apakah argumen soal “demokrasi” ini cuma alasan biar RUU-nya ngetem lama lagi, atau emang beneran harus hati-hati? Yang jelas, kejadian di Senayan tanggal (13/05) ini ngebuktiin kalau mahasiswa masih punya nyali buat nanya langsung ke “singgasana” para wakil rakyat. Keep critical, gaes!
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: detik.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya