Kelompok TPNPB Kodap III Ndugama Darakma menyampaikan klaim bahwa pihak mereka bertanggung jawab atas aksi penembakan terhadap seorang sopir. Peristiwa tersebut terjadi di jalur Trans Wamena–Nduga pada Selasa (15/9) sekitar pukul 09.25 WIT.
Melalui siaran pers resmi yang dirilis oleh Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB, kelompok ini menuduh bahwa korban yang bekerja sebagai sopir tersebut sebenarnya merupakan seorang agen intelijen militer milik pemerintah Indonesia.
Ultimatum dan Imbauan Evakuasi di Area Konflik
Tidak hanya mengaku sebagai pihak di balik penembakan, TPNPB juga mengeluarkan ultimatum keras yang ditujukan kepada para warga pendatang. Mereka melarang warga yang berprofesi sebagai sopir taksi, tukang ojek, hingga Aparat Sipil Negara (ASN) untuk melintas atau beraktivitas di daerah-daerah yang mereka klaim sebagai wilayah konflik. Kelompok ini menuturkan tidak segan untuk menembak siapa saja yang nekat melanggar larangan tersebut.
Di samping itu, pihak TPNPB meminta aparat keamanan untuk segera mengevakuasi jasad korban beserta kendaraan yang diklaim telah dibakar di lokasi kejadian. Mereka juga secara khusus mengimbau masyarakat lokal Papua agar tidak ikut campur atau terlibat dalam proses evakuasi tersebut.
Terkait dengan identitas korban yang dituduh sebagai agen intelijen, tuduhan aktivitas spionase, hingga kronologi lengkap dari penembakan ini, semuanya masih murni berupa klaim sepihak dari pihak TPNPB. Hingga saat ini, belum ada verifikasi independen maupun konfirmasi resmi dari pihak berwenang untuk membuktikan kebenaran tuduhan tersebut.
Kondisi Lapangan dan Langkah Kewaspadaan
Hingga kini, situasi keamanan di sepanjang jalur Trans Wamena–Nduga masih terus dipantau secara ketat oleh aparat. Masyarakat, terutama para pengguna jalan dan pekerja di area tersebut, diminta untuk tetap ekstra berhati-hati saat beraktivitas. Warga juga diimbau untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu yang beredar dan selalu memantau perkembangan informasi serta arahan resmi yang dikeluarkan oleh pihak kepolisian maupun TNI.