Waduh, ada kabar panas lagi nih dari dunia hukum! Kali ini giliran “bos besar” kesehatan di Kabupaten Nias, Sumatera Utara, yang kena ciduk. Kepala Dinas Kesehatan, P2KB berinisial RZ, resmi dipakaikan rompi pink sama pihak Kejaksaan pada Rabu (29/4) kemarin.
RZ diduga kuat main mata dalam proyek pembangunan Rumah Sakit Kelas D Pratama yang nilai kontraknya nggak main-main, yaitu tembus Rp 38.550.850.700! Bayangin, dana sebesar itu yang harusnya buat fasilitas kesehatan masyarakat, malah jadi ajang bancakan korupsi.
Kadinkes RZ Resmi Jadi Tersangka Keempat
Ternyata, RZ ini bukan orang pertama yang ditahan. Dia adalah tersangka keempat yang nyusul rekan-rekan “seperjuangannya”. Sebelumnya, udah ada tiga orang yang lebih dulu menginap di hotel prodeo:
- JPZ (Pejabat Pembuat Komitmen), ditahan sejak 2 Maret 2026.
- OKG (Kuasa Pengguna Anggaran), menyusul pada 30 Maret 2026.
- FL (Direktur PT VCM), sang penyedia barang yang diciduk 1 April 2026.
Sekarang, RZ sebagai Pengguna Anggaran (PA) akhirnya ikut nyemplung juga. Komplotan ini kayaknya lagi bikin “reuni” di balik jeruji besi nih.
Kasi Intelijen Kejaksaan Negeri Gunungsitoli, Yaatulo Hulu, ngebocorin dikit nih soal gimana cara RZ main. Pada Kamis (30/4), Yaatulo bilang kalau RZ ini dituduh menyetujui pembayaran yang nggak sesuai aturan.
Modus Operandi: Intervensi Pembayaran 100 Persen
Parahnya lagi, dia diduga sengaja mengintervensi biar rekanan proyek tetep dibayar full 100 persen, padahal pengerjaannya mungkin masih jauh dari kata beres atau nggak semestinya dibayar segitu. Intinya, ada duit negara yang dipaksa keluar buat kepentingan yang nggak bener.
Pihak Kejaksaan sih tegas, mereka sudah mengantongi minimal dua alat bukti yang sah sebelum akhirnya menetapkan RZ jadi tersangka lewat surat penetapan resmi.
Saat ini, RZ sudah dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIBGunungsitoli. Dia bakal dijerat pakai pasal-pasal berlapis tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Kalau terbukti bersalah di pengadilan nanti, hukumannya pasti nggak main-main.
Kejadian ini jadi tamparan keras banget buat birokrasi di Nias. Harusnya dana puluhan miliar itu bikin rumah sakit makin canggih, eh malah bikin oknumnya makin kaya. Duh, moga-moga kasusnya cepet tuntas dan duit rakyat bisa balik, ya!
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan sumber: detik.com dan kompas.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.